Terinspirasi freediving setelah ekspedisi ke Gili Trawangan

29 Nov

Buat yang mau liburan ke Lombok sayang banget kalau tidak mampir ke pulau Gili. Kami berenam yang pekerja kantoran sampai rela cuti hari Jumat dan Senin demi bisa berlama-lama liburan. Ekspedisi kami ini tercatat dalam sejarah pada tanggal 13-16 November 2015.

Berangkat ke Lombok

Pesawat Batik Air kami terbang paling pagi dari Jakarta, sempat was-was juga karena beberapa hari belakangan sampai sehari sebelumnya bandara Lombok ditutup akibat gangguan abu vulkanik dari aktivitas erupsi gunung Barujari si anak gunung Rinjani. Namun syukurnya siang itu kami sukses mendarat dengan mulus.

Mengunjungi Desa Sade

Kami menyewa mobil dari penyedia jasa travel yang ada di bandara, karena masih cukup waktu kami menyempatkan diri mengunjungi Desa Sade yang hanya menempuh waktu sekitar 15 menit saja. Ini salah satu desa wisata yang masih mempertahankan adat suku Sasak, banyak objek menarik yang bisa dijadikan foto, souvenir yang dijual pun asli buatan penduduk lokal seperti kain tenun yang berwarna-warni dan bermacam pernak-pernik.

gerbang masuk menuju desa Sade

gerbang masuk menuju desa Sade

Kalau berkunjung ke sini memang sebaiknya memakai jasa pemandu lokal, mereka tersedia dan langsung menawarkan jasanya setelah anda memasuki gerbang masuk, tidak mahal dan hanya beri tips seikhlasnya. Pemandu akan menceritakan dengan detail semua yang ada di sana, mulai dari sejarah, bangunan, adat-istiadat, hingga kehidupan mereka sehari-hari.

pernak-pernik beraneka warna yang dijajakan

pernak-pernik beraneka warna yang dijajakan

pemandu lokal sedang menceritakan sejarah rumah tertua berusia 3 abad lebih

pemandu lokal sedang menceritakan sejarah rumah tertua berusia 3 abad lebih

nenek sedang menenun kain khas Lombok

nenek sedang menenun kain khas Lombok

nenek sedang menjajakan kain tenun di teras rumahnya

nenek sedang menjajakan kain tenun di teras rumahnya

kalau tertarik silahkan menawar harga kain tenun

kalau tertarik silahkan menawar harga kain tenun

Makan siang di RM Cahaya

Selepas dari sini kami kembali menuju arah bandara untuk menjemput teman yang jadwal pesawatnya datang belakangan, sang supir merekomendasikan untuk mampir ke tempat makan tepat di depan jalan keluar bandara, namanya rumah makan Cahaya. Menu andalannya yang kami coba adalah nasi ayam plus sambal balap ditambah sayur plecing kangkung, sangat menggugah selera namun tetap bersahabat di kantong.

Menuju pelabuhan Bangsal

Selepas makan siang kami bertolak menuju pelabuhan Bangsal untuk naik perahu penyeberangan antar pulau. Melihat sudah jam 15.00 supir langsung tancap gas karena kapal terakhir akan berangkat jam 17.00, perjalanan dari bandara ke sana cukup jauh, berjarak 70 km dan bisa memakan waktu dua jam, sebagiannya melintasi tepi pantai Senggigi yang dilihat dari atas ketinggian, bisa sekalian buat cuci mata.

Tepat jam 17.00 kami tiba dan masih tersisa perahu terakhir. Di sana ada dua pilihan, mau naik perahu biasa atau speedboat. Jelas lebih cepat dan lebih mahal naik speedboat, jadwalnya juga lebih fleksibel dibanding perahu biasa. Namun kami memilih naik perahu biasa dan ternyata perjalanan cukup setengah jam, tidak beda jauh dengan speedboat yang hanya 20 menit.

Hati-hati dengan penduduk lokal yang membantu membawakan tas anda dari tepi pantai menuju perahu, teman saya yang dibantu diangkat kopernya sampai atas perahu tidak mengira karena setelah duduk dia ditembak ongkos panggul Rp 20 ribu, karena shock antara ketipu tapi kasihan akhirnya cuma dikasih Rp 5 ribu tanpa banyak cakap.

Tiba di pulau Gili Trawangan menuju Jati Village

Menjelang maghrib kami tiba di Gili Trawangan. Kami sudah memesan penginapan di Jati Village, dari dermaga masih harus jalan kaki masuk ke dalam gang sekitar 300 meter. Karena bingung mau lewat mana, kami menelpon dan dijemput staf mereka yang ceria, mbak Shiro.

turis lokal langsung selfie saat tiba di depan dermaga Gili Trawangan

turis lokal langsung selfie saat tiba di depan dermaga Gili Trawangan

Penginapan ini kami pilih dari website booking.com karena saat itu memiliki skor yang sangat baik yaitu 8.6 dari 10. Memang kami akui tempatnya nyaman dan jauh dari keramaian, dan satu yang paling saya suka karena bagian belakangnya tepat berada bukit yang kalau disusuri akan menuju ke puncak tertinggi di pulau ini.

Kami menyewa dua rumah, yang satu lebih luas dan bisa ditempati empat orang, sedangkan saya bersama istri di rumah yang lebih kecil dan muat berdua. Namun satu yang membuat kurang nyaman, pendingin ruangan di kedua rumah ini tidak terlalu dingin walaupun sudah disetel ke suhu terendah.

Makan malam di pasar

Malam ini kami jalan menyusuri deretan kafe dan rumah makan yang ada pinggir pantai dekat dermaga. Kami memilih makan di pasar demi menghemat biaya, pilihannya juga banyak, seafood yang dijajakan masih segar dan siap dimasak. Pulang makan lanjut berenang sebentar di kolam vila, lalu mandi dan langsung tidur karena akan ada banyak aktivitas menyenangkan esok hari. Jauh dari polusi cahaya kota berdampak banyaknya bintang terlihat di langit malam di atas Gili ini.

kolam renang di Jati Village saat malam yang tetap bercahaya

kolam renang di Jati Village saat malam yang tetap bercahaya

taburan bintang yang mengisahkan rasi Orion sedang mengejar Seven Sisters

taburan bintang yang mengisahkan rasi Orion sedang mengejar Seven Sisters

Snorkeling seputaran pulau Gili

Sabtu pagi selepas sarapan di vila, kami menuju dermaga. Ada banyak tempat yang menawarkan wisata snorkeling, tinggal kalian pilih salah satunya. Kami menyewa kamera aksi GoPro juga di situ, beruntungnya kami mendapat GoPro Hero 4 Silver yang sudah lumayan mumpuni.

kapal siap menuju spot snorkeling

kapal siap menuju spot snorkeling

Tepat jam 10 perahu kami jalan, ada tiga spot yang akan kami selami di sekitar pulau Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Perahu yang kami naiki ada kaca di bagian dasarnya, jadi bagi kalian yang takut nyemplung bisa melihat keindahan bawah laut dari atas perahu.

Yang paling saya suka saat snorkeling yaitu airnya jernih banget dan arusnya tenang. Selesai menyelami dua spot, kami menepi di Gili air untuk menyantap makan siang gratis sebab harganya sudah satu paket dengan wisata snorkeling ini. Selesai makan, lanjut lagi ke spot ketiga, kurang nyaman juga sebenarnya saat harus snorkeling dengan perut yang masih kenyang.

snorkeling di air laut yang jernih

snorkeling di air laut yang jernih

ngasih makan gerombolan ikan bermulut monyong

ngasih makan gerombolan ikan bermulut monyong

usai snorkeling di seputaran tiga pulau Gili

usai snorkeling di seputaran tiga pulau Gili

siap kembali ke Gili Trawangan usai snorkeling

siap kembali ke Gili Trawangan usai snorkeling

Jam 15.00 kami sudah tiba kembali di dermaga Gili Trawangan. Kami menuju tempat penyewaan sepeda supaya puas bisa keliling pulau. Di sini sangat bebas polusi karena transportasi hanya sepeda dan delman yang disebut Cidomo alias cikar-dokar-mobil. Pulang ke vila ngga capek jalan kaki lagi karena bisa gowes sepeda.

delman dan sepeda sebagai alternatif transportasi bebas polusi

delman dan sepeda sebagai alternatif transportasi bebas polusi

Menuju puncak bukit tertinggi

Karena masih sore dan terang, saya bersemangat menjelajah bukit di belakang vila sendirian, sementara teman saya yang lain sedang asyik berleha-leha sambil berendam di kolam renang. Bukit ini dipenuhi hewan gembala yaitu kambing, sapi dan kuda, mereka sedang asyik rebahan di tanah saat saya melintasinya. Di bukit ini juga terdapat pembangkit listrik tenaga surya.

menara operator telekomunikasi di puncak bukit

menara operator telekomunikasi di puncak bukit

Di puncak bukit berketinggian 70 meter di atas permukaan laut ini terdapat menara operator telekomunikasi, dari sini saya bisa melihat kedua pulau Gili lainnya dan juga pulau Lombok lengkap dengan kemegahan gunung Rinjani, gunung berapi kedua tertinggi (3726 mdpl) di Indonesia setelah gunung Kerinci (3805 mdpl). Pepohonan di sini sudah tandus dan hanya tersisa ranting karena musim kemarau yang berkepanjangan, tanahnya pun berdebu saat dilewati.

di arah timur terlihat jelas pulau Gili Meno di seberang lautan

di arah timur terlihat jelas pulau Gili Meno di seberang lautan

terlihat pulau Lombok di kejauhan dari arah selatan pulau ini

terlihat pulau Lombok di kejauhan dari arah selatan pulau ini

di arah selatan ada jalan setapak dari bawah menuju bukit ini

di arah selatan ada jalan setapak dari bawah menuju bukit ini

Membenamkan diri di tepi Ombak Sunset

Salah satu spot unik untuk diabadikan di Gili Trawangan ini adalah saat bermain ayunan di atas air laut yang sedang pasang di kala matahari terbenam berlatar belakang Gunung Agung (3031 mdpl) yang merupakan gunung tertinggi di pulau Bali, tempat ini berada di tepi pantai depan hotel Ombak Sunset. Butuh waktu sekitar 15 menit dengan bersepeda santai menyusuri jalan di tepi pantai, lokasinya kalau dilihat di map tepat berada di sisi berlawanan dari dermaga.

lesehan menanti sunset di pantai depan hotel Ombak Sunset

lesehan menanti sunset di pantai depan hotel Ombak Sunset

Di sana terdapat tiga ayunan, ayunan pertama digunakan untuk pengunjung yang ingin difoto oleh jasa fotografer dari pengelola Ombak Sunset, walaupun harus bayar namun antriannya paling panjang. Ayunan kedua bebas digunakan untuk umum namun tetap panjang antriannya.

Akhirnya kami memilih ayunan ketiga yang paling sedikit orang antri, namun di atas ayunan ini tidak ada tulisan “Ombak Sunset” seperti kedua ayunan sebelumnya tapi tidaklah mengapa. Ayunan ketiga ini khusus buat foto yang masih single karena memang hanya ada satu ayunan, sementara dua yang lainnya bisa buat pasangan karena ada dua ayunan. Kalian harus memberanikan diri berjalan ke tengah ayunan ini melintasi ketinggian air yang sudah mencapai selutut.

foto wajib saat sunset di ayunan Ombak Sunset

foto wajib saat sunset di ayunan Ombak Sunset

Setelah cahaya sunset tidak tersisa, kami pulang buat mencari makan malam, jalanan yang harus dilewati kebanyakan belum ada lampunya, beruntung saya bawa senter mungil Zebralight yang cahayanya seterang lampu sepeda motor. Bingung karena kebanyakan tempat pilihan makanannya bakal menguras kantong, akhirnya pilihan kami kembali menghabiskan makan malam di pasar.

Menyambut sunrise dari atas bukit

Esok paginya selepas shalat Subuh saya bersama kekasih bergegas naik ke atas bukit untuk mendapatkan spot terbaik saat melihat keindahan sunrise yang terbit dari balik gunung Rinjani, sementara teman yang lain masih terlelap. Ditemani kicauan suara burung dan semilir angin pagi dari sejak langit masih gelap sampai berubah menjadi warna kuning keemasan membuat waktu tidak terasa sudah jam 6.30.

menanti sunrise di atas bukit berlatar depan pembangkit listrik tenaga surya

menanti sunrise di atas bukit berlatar depan pembangkit listrik tenaga surya

menunggu sunrise yang akan terbit di balik gunung Rinjani

menunggu sunrise yang akan terbit di balik gunung Rinjani

akhirnya sang mentari muncul di balik gunung Rinjani dan pepohonan tandus

akhirnya sang mentari muncul di balik gunung Rinjani dan pepohonan tandus

spot sunrise ini bekas kandang ternak outdoor yang sudah terbengkalai

spot sunrise ini bekas kandang ternak outdoor yang sudah terbengkalai

menuruni bukit tandus untuk kembali ke vila

menuruni bukit tandus untuk kembali ke vila

Kembali ke vila, saya lanjut gowes sepeda keliling pulau Gili Trawangan ini yang panjang keliling garis pantainya sekitar 7 km. Cukup sejam sudah puas keliling bersepeda santai plus berhenti buat selfie di spot yang unik buat berfoto. Ada kepuasan tersendiri rasanya bisa menjelajahi pulau yang bebas polusi ini, bahkan saya banyak bertemu turis asing yang asyik berjoging keliling pulau.

sepedaan ke ujung utara buat mengabadikan gunung Rinjani

sepedaan ke ujung utara buat mengabadikan gunung Rinjani

sepasang turis sedang menikmati sepedaan keliling pulau

sepasang turis sedang menikmati sepedaan keliling pulau

lesehan di pinggir pantai depan vila Le Pirate yang bergaya Caribbean

lesehan di pinggir pantai depan vila Le Pirate yang bergaya Caribbean

Pulang sepedaan memang paling enak sarapan, kami berenam puas menikmati quality time dalam kebersamaan sambil menyeduh kopi hitam khas Lombok.

sarapan di Jati Village yang penuh makna

sarapan di Jati Village yang penuh makna

Good bye Jati Village feat. Shiro

Minggu jam 10 pagi kami berpamitan dengan mbak Shiro, kami puas dengan pelayanan dan kenyamanan vila ini, meskipun harus sedikit kegerahan di dalam kamar yang mungkin karena pengaruh panasnya cuaca di musim kemarau ini.

rumah yang saya tempati berdua bersama kekasih

rumah yang saya tempati berdua bersama kekasih

rumah yang dihuni teman saya berempat

rumah yang dihuni teman saya berempat

Kalau penilaian saya pribadi mungkin agak sedikit di bawah nilai booking.com yang bernilai 8.6. Saya beri nilai 8 untuk pelayanan, nilai 10 buat lokasi yang jauh dari keramaian dan akses menuju bukit tertinggi, nilai 6 buat pendingin ruangan yang malah hangat, dan yang paling parah nilai 3 karena sempat mati lampu tengah malam hanya di rumah yang saya tempati sementara semua staf tidak ada yang standby. Namun rerata nilai 7 masih cukup layak disematkan dan saya tidak kapok buat kembali menginap di sini lagi lain waktu.

groufie di depan Jati Village bareng Shiro yang mematung di tengah

groufie di depan Jati Village bareng Shiro yang mematung di tengah

Bermalam di Senggigi sebelum ke Jakarta

Jam 10 kami sudah bersiap di dermaga untuk menyeberang kembali ke pelabuhan Bangsal. Setibanya di sana sudah siap dijemput mobil carteran yang dipesan teman saya. Kami mampir ke Malimbu Hill dan Pura Batu Bolong di sekitar Senggigi buat selfie, dan sekadar keliling kota Mataram buat beli oleh-oleh serta makan siang.

groufie di Malimbu Hill yang berlatar tiga pulau Gili

groufie di Malimbu Hill yang berlatar tiga pulau Gili

aktivitas peribadatan di pura Batu Bolong

aktivitas peribadatan di pura Batu Bolong

ukiran unik di salah satu pintu pura Batu Bolong

ukiran unik di salah satu pintu pura Batu Bolong

berpose di depan pura Batu Bolong

berpose di depan pura Batu Bolong

turun ke bawah buat berpose di tengah batu karang bolong

turun ke bawah buat berpose di tengah batu karang bolong

Setelah puas keliling Mataram, kami langsung menuju Lombok Beach Villa di Senggigi. Hotelnya biasa saja namun cukup terjangkau untuk menyewa satu kamar yang muat empat plus dua orang. Pemandangannya langsung ke laut dan bisa menikmati sunset tanpa halangan apapun, namun kurang bagus buat fotografi karena pemandangannya sunset yang polos.

sunset di belakang penginapan Lombok Beach Villa

sunset di belakang penginapan Lombok Beach Villa

Kami memilih tinggal di Lombok semalam lagi buat menghilangkan perasaan kangen liburan yang takut kebawa pulang. Tidak terasa waktu cepat berlalu menjadi Senin siang di mana pesawat Batik Air siap menerbangkan kami kembali menuju Jakarta, untuk kembali mengais rezeki, yang tentunya akan kembali disisihkan di jalan-jalan berikutnya.

panorama pagi tepi pantai di belakang Lombok Beach Villa

panorama pagi tepi pantai di belakang Lombok Beach Villa

Kocek wisata Lombok 4 hari 3 malam

Total biaya yang dihabiskan perorang mencapai Rp 3,2 juta. Paling mahal tentu saja ongkos pesawat pergi pulang Rp 1,5 juta, termahal kedua adalah biaya penginapan dengan patungan perorang Rp 700 ribu, dan selebihnya habis untuk makan dan hiburan. Berikut ini detail rinciannya.

kocek ekspedisi Lombok selama 4 hari 3 malam

kocek ekspedisi Lombok selama 4 hari 3 malam

Next journey???

Selain membuat pikiran jernih tentunya liburan di Lombok kali ini memberi saya banyak inspirasi yang akan membawa saya ke petualangan berikutnya. New places, new lessons, new friends, etc..

Snorkeling di Karimun Jawa sebelumnya dan Gili Trawangan barusan membuat jiwa saya seakan menyatu dengan lautan, namun saya masih takut kalau harus melepas pelampungnya. Saya ingin merasa bebas tanpa terkekang.. saya ingin menyelam bebas.. so let’s FREEDIVE :)

tampak gunung Rinjani menyapa kami di kejauhan. see you Lombok in our next journey

tampak gunung Rinjani menyapa kami di kejauhan. see you Lombok in our next journey

4 Responses to “Terinspirasi freediving setelah ekspedisi ke Gili Trawangan”

  1. adilpiero December 30, 2015 at 11:11 am #

    Gili is cool…. puas…

    Oiya tambahan saran utk perjalanan itu 6 org… sehingga biaya transport dan penginapan jd pas…

    • iwayful January 4, 2016 at 8:53 am #

      cool and hot ya bro :)
      yoi makin banyak yang ikut pastinya patungan jadi makin murah

  2. Feri December 30, 2015 at 11:22 am #

    Cool bro, you just bring me back to those memories, so let`s plan for the Next Journey!!

    • iwayful January 4, 2016 at 8:54 am #

      siapin cuti panjang lagi nih buat next journey biar puas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: