Ekspedisi ke Anyer menyambut hilal Safar

29 Nov

Menghabiskan waktu liburan weekend sambil nyalurin hobi dan belajar ilmu baru, ketiganya saya peroleh saat plesiran ke Anyer bulan November ini, tepatnya tanggal 23&24.

Berangkat bareng rombongan Planetarium & Observarium Jakarta (POJ) pada Minggu pagi, kami bertolak dengan bis mobile observatorium, hampir gagal sampai sana karena sempat ada insiden mogok di tengah jalan tol, untungnya bisa lanjut jalan lagi. Akhirnya siang itu kami tiba di Wisma Ditjen Hubla, lokasi penginapan yang berada di tepi pantai ujung barat pulau Jawa ini pas banget buat nonton matahari terbenam.

selamat datang di wisma Ditjen Hubla di Anyer

selamat datang di wisma Ditjen Hubla di Anyer

wisma kami berada pas di pinggir pantai

wisma kami berada pas di pinggir pantai

Persiapan mengamati hilal

POJ dalam setahun mengadakan enam kali pengamatan (rukyat) hilal, tiga diantaranya wajib yaitu pada awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, sedangkan yang tiga lagi sunah untuk pembelajaran.

Saya berdua dengan Ihsan selaku anak Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) ikut pada pengamatan hilal yang sunah, enaknya kami bisa belajar banyak mulai dari masang mounting teleskop sampai motret hilalnya langsung sampai puas. Dan yang paling seru setelah ngamat hilal selesai, kami bisa makai teleskop yang nganggur ini semalaman buat stargazing sampai pagi.

Rayhan sedang mengarahkan sumbu mounting ke arah selatan, lalu melakukan balancing, dan sinkronisasi finder scope

Rayhan sedang mengarahkan sumbu mounting ke arah selatan, lalu melakukan balancing, dan sinkronisasi finder scope

Rayhan selaku pengamat utama dibantu oleh pembina pak Cecep Nurwendaya, mulai berdiskusi tentang posisi hilal sore ini. Saat matahari tenggelam sekitar jam 17.50, hilal masih berada di ketinggian 10 derajat sehingga kami punya waktu yang cukup lama sekitar 40 menit untuk menangkap citra hilal dan memotretnya sebelum hilal itu terbenam.

Peralatan yang disediakan cukup banyak, kamera DSLR Nikon Rayhan siap dibalik teleskop Vixen ED115S dengan mounting Vixen Atlux, spotter kedua si Ihsan megang kendali dibalik teleskop lawas Vixen 120S dengan mounting Vixen GPD. Selain itu disediakan dua binocular, Celestron Skymaster 20×80 dan Vixen Ascot 10×50. Juga tersedia lensa super telephoto Canon EF 600mm f/4.0L buat mengabadikan keanggunan si Luna.

Vixen Starbook membantu mounting equatorial Vixen Atlux mengarahkan teleskop secara otomatis ke bulan, namun sebelumnya harus di-tracking ke matahari seakurat mungkin.

teleskop yang sedang tracking ke matahari yang mulai tertutup awan

teleskop yang sedang tracking ke matahari yang mulai tertutup awan

Namun apa daya, semua persiapan matang tadi terpaksa dimentahkan oleh kehadiran awan mendung sejak matahari akan terbenam sampai menjelang tengah malam. Menutup awal bulan Safar, dari atas sana lampu mercusuar mulai dinyalakan menggantikan peran mentari yang akan memandu kapal di lautan sepanjang malam ini.

Begadang sambil stargazing sampai subuh

Menjelang tengah malam, sekitar jam 23 awan mulai tersibak, bintang Sirius yang dari tadi terlihat sendirian mulai banyak yang nemenin. Formasi bintang tiga yang cukup mudah dikenali terlihat di atas zenith, yup dialah Orion sang pemburu yang kembali melanjutkan pengejaran tanpa henti pada tujuh bidadari alias seven sisters si Pleiades. Orion yang dalam budaya Jawa dikenal sebagai rasi Lintang Waluku biasa digunakan petani untuk memulai masa tanam karena rasi ini muncul saat musim penghujan.

Orion sang pemburu mulai terlihat dari balik dedaunan

Orion sang pemburu mulai terlihat dari balik dedaunan

Ketujuh bidadari Pleiades yang bisa kami lihat dengan mata polos menandakan kondisi langit malam ini sangat layak untuk diobservasi. Alat tempur utama yang kami gunakan malam ini hanya dua teleskop, Vixen 120S yang digunakan saya dan Ihsan, sedangkan Rayhan membidik dengan senjata andalannya Lunt 102mm f/7 ED.

Orion kembali mengejar seven sisters tanpa henti

Orion kembali mengejar seven sisters tanpa henti

Walaupun Vixen ED115S yang dipakainya tadi sore optiknya lebih mumpuni, namun dengan nilai f/7.7 membuat medan pandangnya lebih sempit, sehingga malam ini dia hanya teronggok di dalam box. Terbukti dengan medan pandang Lunt yang lebih luas, Rayhan sukses mengabadikan deep sky objects di dekat bintang Alnitak yang menjadi salah satu sabuk Orion, yaitu Flame & Horsehead Nebula.

ga percuma Rayhan begadang buat dapetin Flame & Horsehead Nebula ini

ga percuma Rayhan begadang buat dapetin Flame & Horsehead Nebula ini

Saya sendiri berhasil memotret luasnya langit memakai tripod dilengkapi Vixen Polarie yang bisa mengikuti pergerakan benda langit, walaupun menggunakan teknik long exposure namun tidak menghasilkan foto star trail melainkan foto bintang yang tajam.

dengan Vixen Polarie saya berhasil menangkap trio Alnitak Alnilam Mintaka diapit Betelgeuse, Bellatrix, Rigel, dan Saiph

dengan Vixen Polarie saya berhasil menangkap trio Alnitak Alnilam Mintaka diapit Betelgeuse, Bellatrix, Rigel, dan Saiph

Beberapa penampakan meteor dan satelit yang sedang melintas cukup jelas terlihat hanya dengan mata polos. Menjelang pagi datang bintang yang paling terang ke tengah panggung langit menuju zenith, ternyata itu penampakan planet Jupiter. Hanya bermodalkan binocular 10×50 sudah bisa terlihat keempat Galilean moon yang setia menemani Jupiter.

Jupiter ditemani Galilean moons si Callisto, Ganymede, Io, dan Europa

Jupiter ditemani Galilean moons si Callisto, Ganymede, Io, dan Europa

Tidak terasa langit mulai terang, padahal masih jam lima subuh. Saat bintang-bintang mulai terlihat redup, Jupiter masih setia menemani sampai langit jadi biru terang, bahkan sampai jam enam masih terlihat jelas lewat teleskop.

cahaya lampu mercusuar yang setia menemani sampai subuh

cahaya lampu mercusuar yang setia menemani sampai subuh

Puas begadang, sekarang saatnya tidur sampai siang.. Sore nanti kami akan kembali ngamat hilal hari kedua, kalau tidak berhasil juga berarti memang belum jodoh.

Anyer dari ketinggian mercusuar

Belum ke Anyer namanya kalau belum naik ke puncak mercusuar. Saya sudah menunggu pintu mercusuar dibuka dari pagi, tapi karena Senin sepi pengunjung jadi penjaga pintunya ngaret banget datangnya. Pas sore mau naik malah penjaganya yang sudah pulang, terpaksa saya mengiba sama bapak pemegang kunci cadangan buat dibukain sebentar biar kami punya bukti foto kalau sudah pernah singgah ke sini.

pantai Anyer menjelang sunset yang tertutup awan tebal dilihat dari puncak mercusuar

pantai Anyer menjelang sunset yang tertutup awan tebal dilihat dari puncak mercusuar

Akhirnya saya dan Ihsan berhasil naik ke atas, gluduk petir tidak kami hiraukan, sebenarnya bahaya bila petir menyambar mercusuar bisa nyetrum sebab semuanya ini terbuat dari besi. Dari atas saya sempat motret sunset yang berselimut awan tebal. Tampaknya observasi hilal hari kedua ini kembali gagal karena cuaca mendung.

Adzan maghrib mulai berkumandang saat kami masih di puncak mercusuar, bergegas kami turun dari ketinggian bangunan bertingkat 16 ini. Bagaimanapun juga sebelum adzan selesai kami sudah harus keluar dari bangunan ini kalau tidak ingin melihat sesuatu yang tidak nampak, semakin turun ke bawah suasana makin gelap dan mencekam, sampai di pintu keluar untungnya belum digembok, akhirnya kami berhasil lolos dari bangunan tua ini sebelum adzan selesai tanpa mengalami kejadian mistis.

Tepat jam tujuh malam berakhir sudah misi kami dan mulai bertolak kembali menuju Jakarta..

sunset di atas pantai Anyer

sunset di atas pantai Anyer

Kesan menginap di Anyer

Wisma Ditjen Hubla yang kami tempati berada persis di sebelah mercusuar, bangunannya berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. Tempat ini saya rekomendasikan buat yang ingin menghabiskan waktu melihat sunset, buat yang hobi mancing bisa langsung menuju dermaga, yang mau wisata sejarah bisa foto di tugu nol km sebagai titik awal pembangungan jalan Anyer-Panarukan, dan yang mau uji nyali bisa nginap di dalam mercusuar selepas adzan maghrib.

Yang paling penting, lokasinya cocok buat ngamat hilal dan stargazing yang bakalan keren banget hasilnya. Nginep di hotel bintang lima pun bakalan kalah sensasinya, karena di halaman wisma ini hanya dengan tidur di samping pantainya aja serasa nginep di hotel “bintang seribu” yang beratapkan langit seribu bintang :)

2 Responses to “Ekspedisi ke Anyer menyambut hilal Safar”

  1. Fahmi (catperku.info) December 1, 2014 at 6:43 pm #

    fotonya kereen >,< teropong bintang gitu harganya berapa? pasti mahal ya :| tapi hasilnya keren sih~ kamera biasa pasti nggak mampu menghasilkan foto kayak tadi :|

    • iwayful December 8, 2014 at 8:49 am #

      harga teropong bintang mulai dari 3 jutaan, kamera biasa keren juga loh buat foto sabuknya galaksi bimasakti :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: