Merasakan sehari jadi peneliti di observatorium Bosscha

12 Oct

Mau ngerasain serunya jadi peneliti di observatorium Bosscha tanpa perlu pusing-pusing masuk jurusan IPA di SMA dan lanjut masuk fakultas FMIPA saat kuliah. Gimana bisa??

Gampang.. cukup gabung aja di Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) dan ikutan event star party-nya yang kali ini diadakan di observatorium Bosscha, kita bakal semalaman suntuk meneliti bintang dengan teleskopnya yang segede meriam didampingi oleh peneliti Bosscha-nya langsung.

Setelah sebelumnya saya mengikuti star party kedua di Ciamis, star party ketiga HAAJ di tahun 2014 pada 27-28 September 2014 kali ini yang bertema “Instrumentasi Astronomi” telah sukses membuat kami terpana saat mencoba langsung beberapa teleskop canggih yang dipakai oleh peneliti di Bosscha.

Dari Jakarta menuju Lembang

Sabtu pagi, kami start setengah enam dari Planetarium dengan satu bis kapasitas 30 orang, tiba jam sembilan, lebih cepat dari jadwal yang seharusnya tiba pukul 10. Villa Buah Sinuan yang berada di perbukitan Lembang menjadi base camp kami, walau masih pagi tapi udaranya terasa dingin dan sejuk.

selfie bareng di depan villa

selfie bareng di depan villa

Selepas makan siang, jam satu kami mulai jalan kaki bersama menuju observatorium Bosscha yang berjarak sekitar 300 meter, lumayan dekat namun ternyata cukup melelahkan karena jalannya menanjak dan lokasinya berada tepat di atas bukit.

disediakan koordinat buat mahluk asing yang mau langsung ke Bosscha pakai GPS

disediakan koordinat buat mahluk asing yang mau langsung ke Bosscha pakai GPS

Tour teleskop

Agenda pertama yang akan kami lewati siang ini adalah tour teleskop, di dalam komplek Bosscha ini terdapat beberapa teleskop yang tersimpan di dalam rumahnya masing-masing, setiap teleskop memiliki fungsi khusus untuk keperluan penelitian yang berbeda-beda.

Zeiss sang tuan rumah

Mengikuti adat orang timur yang menjunjung tinggi kesopanan, jadi kami singgah ke tuan rumah Bosscha yaitu kubah si teleskop Zeiss, yang juga menjadi ikon Bosscha. Walau dari luar terlihat kecil namun di dalamnya cukup luas. Di dalam kubah ini terdapat teleskop Zeiss asal Jerman, sudah mulai digunakan sejak 1928, jadi usianya saat ini sudah 86 tahun dan merupakan teleskop tertua yang ada di Bosscha. Teleskop ini berjenis refraktor ganda, berdiameter 60 cm dengan panjang titik fokus hampir 11 meter (1080 cm), sehingga fokus rasionya adalah f/18.

belum ke Bosscha kalau belum selfie di depan kubahnya opa Zeiss

belum ke Bosscha kalau belum selfie di depan kubahnya opa Zeiss

Selama setengah jam kami diberikan penjelasan dengan cukup baik oleh Denny Mandey, peneliti yang sudah cukup senior di Bosscha ini. Teleskop ini tidak memiliki eyepieces sehingga kita tidak bisa melihat objek langit dengan mata langsung, melainkan harus disambungkan dengan alat yang nantinya baru bisa dilihat lewat layar monitor. Saya pribadi kurang puas bila memakai teleskop tapi tidak melihat objeknya langsung dari eyepieces, karena kalau melihat gambarnya lewat monitor sama saja rasanya seperti melihat video di youtube.

Denny Mandey sedang menceritakan kisah hidup opa Zeiss

Denny Mandey sedang menceritakan kisah hidup opa Zeiss

Selepas dari kubah Zeiss, kami menuju ruang multimedia untuk diberikan penjelasan seputar astronomi melalui tayangan video presentasi selama setengah jam.

Selesai dari sini, kami melanjutkan tour teleskop bersama Zainuddin Arifin. Selain kubah utama Zeiss, disekitaran sini terdapat beberapa rumah yang bisa dibuka atapnya, di dalamnya berisi teleskop dengan fungsinya masing-masing.

Rumah kedua yang kami lewati berukuran mini, memuat parabola di atasnya yang merupakan teleskop Radio 2,3m. Teleskop ini menggunakan gelombang radio untuk pengamatannya.

rumah teleskop radio dengan ciri khas satelit parabolanya

rumah teleskop radio dengan ciri khas satelit parabolanya

Spionase kubu Jepang bersama GAO-ITB

Lalu kami singgah ke rumah mini ketiga yang berisi teleskop GAO-ITB yang merupakan kerjasama antara Gunma Astronomical Observatory dengan kampus ITB. Di dalamnya terdapat teleskop reflektor berdiameter 20 cm dengan panjang fokus 200 cm serta fokus rasionya f/10.

Teleskop ini bisa digerakkan langsung oleh peneliti di Jepang dan hasilnya disaksikan langsung dari sana untuk melakukan kegiatan “spionase” langit yang berada di atas Lembang, demikian pula sebaliknya, peneliti di Bosscha dapat menggerakkan teleskop yang berada di Gunma untuk “mengintai” aktivitas langit yang berada di atas Jepang.

Aksi robotik si GOTO

Lanjut lagi, di sebelah kanannya terdapat rumah mini ke empat yang berisi teleskop GOTO yang berjenis reflektor Cassegrain dengan diameter cermin utama 45 cm dengan panjang fokus 540 cm serta fokus rasionya f/12. Teleskop ini merupakan bantuan dari Kementrian Luar Negeri Jepang dan juga teleskop pertama di Bosscha yang sepenuhnya digerakkan dengan kontrol komputer serta telah dilengkapi dengan kamera CCD.

Zainuddin sedang menjadi tour guide keliling komplek Bosscha

Zainuddin sedang menjadi tour guide keliling komplek Bosscha

Lalu di sebelah kanannya terdapat lagi rumah mini kelima yang berisi teleskop Unitron yang berjenis refraktor, berdiameter 102 mm dan panjang fokus 150 cm serta fokus rasio f/14,7.

Bamberg sang pahlawan revolusi

Rumah ke enam yang kami kunjungi berikutnya jauh lebih luas dari beberapa rumah teleskop sebelumnya, kami semua boleh masuk ke dalamnya. Di sini terdapat teleskop Bamberg yang berjenis refraktor dengan diameter lensa 37 cm dan panjang fokus mencapai 7 meter serta fokus rasio f/18,9. Bamberg masih saudaraan dengan Zeiss karena berasal dari Jerman. Dulu namanya Bamberg astrograaf yang dibangun pada tahun 1920-1921.

sowan ke rumah opa Bamberg

sowan ke rumah opa Bamberg

Ada hal menarik yang diceritakan oleh Zainuddin tentang rumah ini, pada zaman penjajahan tepatnya di perang dunia kedua, Jepang sempat curiga dengan aktivitas yang ada di perbukitan ini, terlebih rumah teleskop Bamberg sebab bila moncong teleskop ini sedang diarahkan ke atas terlihat seperti meriam, sehingga mereka mengebom tempat ini dan menyebabkan beberapa kerusakan yang cukup serius pada Bamberg. Bahkan di pekarangan rumah ini masih terdapat beberapa peninggalan bom terpendam yang masih aktif, sehingga pengunjung diharap waspada agar jangan asal melangkah ke daerah terlarang!!!

ini dia moncong dari teleskop meriam Bamberg yang ditakuti Jepang

ini dia moncong dari teleskop meriam Bamberg yang ditakuti Jepang

Akibat rusak cukup parah akhirnya teleskop ini tidak dapat diperbaiki. Lalu pihak Bosscha membeli lagi teleskop Bamberg baru yang dibangun pada tahun 1927 dan mulai digunakan tahun 1929, Bamberg inilah yang sekarang berada di depan kami, usianya sudah 85 tahun. Seharusnya predikat teleskop tertua di Bosscha dipegang oleh si Bamberg, namun karena sudah diganti baru sehingga usianya sudah tidak “setua” si Zeiss.

Teleskop Bamberg saat ini sudah jarang digunakan untuk penelitian serius di Bosscha, alasannya antara lain karena mounting penggerak dan tracking-nya yang sudah tidak akurat lagi, selain itu konstruksi bangunan ini hanya bisa menjangkau pengamatan benda langit yang berada di sudut ketinggian di atas 30 derajat saja, dan hanya bisa di gerakkan ke arah Timur-Selatan-Barat.

Di penghujung usianya yang sudah tergolong renta menurut hitungan umur manusia, opa Bamberg telah menjadi saksi sejarah perjuangan revolusi masa lalu.

semua peserta khidmat mendengarkan kisah tragis opa Bamberg

semua peserta khidmat mendengarkan kisah tragis opa Bamberg

Surya sang penerang

Berikutnya terdapat rumah ke tujuh yang berukuran sedang, di dalamnya terdapat teleskop Surya yang khusus digunakan untuk pengamatan matahari. Sayangnya dari sejak rumahnya si teleskop Radio sampai rumahnya si Surya ini, hanya rumah si Bamberg yang bisa kami masuki, rumah lainnya tidak bisa karena terkunci dan isi dalamnya memang dikhususkan untuk peneliti Bosscha saja.

Schmidt si pembunuh berdarah dingin

Lanjut lagi, kali ini kami melangkah cukup jauh ke bibir tebing perbukitan, di sini terdapat rumah kedelapan yang menyimpan teleskop Schmidt Bima Sakti asal Rotterdam, Belanda. Teleskop sumbangan UNESCO buatan tahun 1958 yang kini berusia 56 tahun ini mempunyai diameter lensa koreksi 51 cm, diameter cermin 71 cm, dan panjang fokus 127 cm. Perbandingan antara panjang fokus dengan diameter lensa koreksinya menghasilkan fokus rasio f/2,5 sehingga mampu menangkap cahaya jauh lebih banyak dibanding semua teleskop yang ada di Bosscha. Karena itu teleskop ini dijuluki “kamera langit cepat” dan “teleskop paling terang” karena benda langit paling redup yang bisa diamatinya bisa sampai dengan magnitudo 20, sehingga jauh lebih terang dibanding teleskop Zeiss sekalipun.

perawakan sangar opa Schmidt si mantan pembunuh berdarah dingin

perawakan sangar opa Schmidt si mantan pembunuh berdarah dingin

Karena kemampuannya menangkap cahaya yang luar biasa banyak, teleskop ini cukup “berbahaya” bila digunakan untuk memotret bulan purnama karena dapat merusak sensor kamera, untuk itu diperlukan filter tambahan untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk. Zainuddin bercerita bahwa teropong ini sangat peka dan rentan sekali terhadap polusi cahaya, sehingga langit malam yang terlihat akan tampak seperti siang hari. Namun sayangnya teleskop ini masih dalam renovasi sehingga kita tidak bisa membuktikan kebenaran cerita tersebut. Teleskop ini juga memiliki luas bidang pandang yang cukup luas sehingga cocok dipakai untuk survey langit.

Dari semua teleskop yang kami lihat, hanya teleskop ini yang “butuh kehangatan”, di bagian atas dekat lensa objektifnya ditutupi selimut yang berfungsi untuk menghangatkan lensanya agar tidak terjadi pengembunan.

Namun di balik kehangatannya itu, tenyata si Schmidt merupakan “pembunuh berdarah dingin”. Julukan ini diperoleh saat masa mudanya, sebab pada awalnya Schmidt masih menggunakan plat fotografi untuk menangkap citra langit, sedangkan bahan pembuat plat fotografi terbaik berasal dari usus hewan berang-berang.

Hal ini menimbulkan reaksi keras dari komunitas pecinta hewan dunia, sehingga demi menghormati hak asasi hewani, penggunaan plat fotografi mulai ditinggalkan. Alasan harga juga menjadi pertimbangan, plat ini harganya cukup mahal setara kamera DSLR masa kini. Semenjak itu Schmidt pun dimodifikasi supaya bisa dipasang kamera digital sebagai pengganti plat fotografi.

Tidak terasa waktu sudah jam 4 sore, berakhir pula kisah Zainuddin mendongengkan sejarah penghuni Bosscha, kami pun istirahat sejenak untuk shalat Ashar.

Mencari hilal di siang hari

Kegiatan berikutnya cukup seru karena Zainuddin akan mengajari kami bagaimana melihat hilal yang sudah terbentuk di siang hari saat matahari masih cukup terang, hal ini tidak mungkin diamati dengan mata polos sehingga kami perlu beberapa alat bantu pengamatan.

Kami kembali menuju ke depan rumah teleskop GOTO, di depannya terpasang mounting monopod yang sudah permanen dan sudah dikalibrasi arah mata anginnya. Zainuddin hanya perlu menambahkan mounting equatorial Vixen Sphinx yang dilengkapi Starbook untuk mencari objek benda langit secara otomatis dan akurat. Lalu dia memasangkan teleskop William Optics 66 sebagai senjata utamanya, berjenis refraktor dengan diameter 66 mm dan panjang fokus 388 mm serta nilai fokus rasio f/5,9. Filter yang digunakan adalah filter near-infrared (NIR) dan Neutral Density 1 (ND1) yang keduanya berfungsi untuk meningkatkan kontras.

mempersiapkan senjata untuk mencari hilal di siang hari

mempersiapkan senjata untuk mencari hilal di siang hari

Sebelum bisa menemukan objek bulan, Starbook perlu menentukan tiga objek benda langit untuk melakukan triangulasi. Bila dilakukan di siang hari, biasanya objek yang dapat digunakan adalah Matahari, planet Venus dan planet Merkurius. Namun karena ketiga objek itu lokasinya berdekatan, bisa mengurangi keakuratan buat triangulasi, jadi biasanya Zainuddin sudah menyiapkan settingan triangulasi sejak semalam sebelumnya sebab objek yang bisa dijadikan patokan sangat banyak, lebih bagus lagi kalau objek tersebut letaknya saling berjauhan, misal bintang Vega di utara lalu bintang Antares di barat dan bintang Rigil Kent di selatan.

Setelah ketiga objek tersebut terkunci selanjutnya Starbook akan dengan mudahnya mengarahkan teleskop ke bulan yang akan kami cari. Kondisi langit yang berawan sore ini membuat kami harus bersabar hingga bulan bisa terlihat di layar monitor, akhirnya setelah beberapa menit menunggu terbukti sudah bahwa hilal dapat terlihat dengan baik.

antusias peserta menanti kehadiran hilal di balik awan

antusias peserta menanti kehadiran hilal di balik awan

Kami senang sekali merasakan serunya menjadi peneliti saat mencari hilal, walaupun hari ini sudah hilal hari ketiga dan jaraknya dari matahari sudah sejauh 30 derajat lebih. Kami membayangkan bagaimana sulitnya mendapatkan citra hilal yang baru terbentuk dan sangat dekat jaraknya dengan matahari seperti yang pernah dilakukan Thierry Legault.

beginilah sang master astrofotografer Legault sedang mencari hilal yang baru terbentuk

beginilah sang master astrofotografer Legault sedang mencari hilal yang baru terbentuk

Zainuddin bercerita bahwa pihak Bosscha sempat menawarkan bantuan ke pemerintah, khususnya ke Departemen Agama, untuk membantu mereka melihat hilal yang terbentuk di siang hari (saat penentuan tanggal 1 Ramadhan misalnya), namun mereka menolak dengan alasan hukum syar’i yang mengharuskan melihat hilal menjelang maghrib saat matahari sudah tenggelam.

Penemuan hilal menutup akhir sesi penelitian kami di sore ini, kami kembali ke villa buat istirahat dan isi perut dulu supaya nanti malam semangat lagi observasi sampai pagi.

Begadang buat nyari Milky way

Selain otak encer dan jago ngitung, ternyata ada syarat lain yang harus dimiliki kalau mau jadi peneliti di Bosscha.. ngga boleh takut sama gelap!!

Perjalanan kami dari villa buat kembali ke Bosscha malam ini jauh lebih sulit dibanding siang tadi, selain tanjakan dan dinginnya udara Lembang yang malam ini mencapai di bawah 20 derajat, kami juga harus terbiasa dengan kondisi gelap dan harus selalu berpikiran positif untuk menghalau energi negatif yang mungkin muncul malam ini.

foto jalan setapak di tengah hutan siang tadi yang harus kami tembus di kegelapan malam nanti

foto jalan setapak di tengah hutan siang tadi yang harus kami tembus di kegelapan malam nanti

Kami melewati lokasi uji nyali yang pertama, jujur aja saya ngga bakalan berani kalau disuruh jalan sendiri ke sana, karena kami harus melintasi sederetan hutan bambu yang bunyi gemerisik ditiup angin malam. Minimnya penerangan dan sepinya lokasi semakin membuat kami merasa bahwa kita hanya tinggal sendirian di alam semesta yang luas dan gelap.. hingga saat ini!!

Setelah memasuki komplek Bosscha, kondisinya tetap gelap, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Kami tidak boleh menggunakan senter cahaya putih karena dapat mengganggu kegiatan penelitian yang sedang dilakukan di sini. Kami langsung menuju lokasi pengamatan hilal sore tadi.

Zainuddin sudah menunggu di sini, teleskopnya pun sudah berganti dengan yang lebih besar, yaitu teleskop reflektor Vixen VMC200L yang berdiameter 20 cm. Kondisi langit malam ini sangat cerah, banyak bintang bermunculan. Dari beberapa star party yang saya ikuti, kondisi langit malam ini merupakan yang terbaik yang pernah saya temui, namun seakan Zainuddin mematahkan semangat saya saat bilang kalau kondisi langit seperti ini tidak terlalu bagus buat dia, maklum kan dia levelnya sudah advance.

Objek langit yang kami amati malam ini lewat teleskop adalah sekumpulan deep sky objects (DSO) yang berada di arah barat. Kami menemukan M6 (Messier 6) yang disebut Butterfly cluster, ini adalah kesempatan pertama kalinya saya bisa melihat DSO dengan teleskop, sesuatu yang sangat jarang bisa saya amati di langit kota Jakarta.

serunya bisa merasakan jadi peneliti astronomi di tengah gelap malam bertabur bintang

serunya bisa merasakan jadi peneliti astronomi di tengah gelap malam bertabur bintang

Lalu kami menuju objek M8 yang disebut Lagoon Nebula, gambar nebula M8 yang pernah saya lihat di google ternyata jauh lebih berwarna dibanding apa yang saya lihat langsung. Lalu Rayhan, astrofotografer HAAJ, mengambil gambar M8 dengan kamera DSLRnya, dengan settingan low speed sekitar 30 detik sudah bisa terlihat sedikit warna kemerahan pada nebula M8 tersebut, tentunya bila ingin menghasilkan warna merah yang lebih merona harus mengambil gambar lebih banyak lagi dan ditumpuk menjadi satu.

astrofotografer Dmirza mengabadikan kabut tipis Milky way yang samar terlihat

astrofotografer Dmirza mengabadikan kabut tipis Milky way yang samar terlihat

Di saat yang lain masih sibuk ngintip lewat teleskop, saya mencoba mengabadikan luasnya langit penuh bintang dengan kamera DSLR yang ditaruh di atas tripod, walaupun banyak bintang sayangnya Milky way hanya terlihat samar-samar saat difoto. Setelah konsultasi dengan Dmirza, astrofotografer HAAJ juga, ternyata ada yang salah dengan settingan kamera saya. Saya pakai Canon 650D dengan lensa kit 18-55 mm, settingannya ISO 1600, f/10, dan speed 30 detik. Seharusnya saya pakai nilai f paling besar di f/3,5 supaya bukaannya paling maksimal sehingga bisa menangkap cahaya lebih banyak, sayangnya saya baru konsultasi ini sama Dmirza besok paginya..

Tapi ngga apa-apa, justru dari kesalahan ini saya bisa belajar buat dapetin Milky way lagi di star party berikutnya :)

Berlindung di balik teleskop Bamberg

Sudah jam 11 malam, angin malam yang semakin menusuk tulang dengan suhu yang semakin turun ke 16 derajat membuat kami membutuhkan tempat perlindungan yang lebih hangat. Untungnya rumah teleskop Bamberg sudah bisa kami gunakan. Saat masuk ke dalamnya ternyata kondisi di dalam sini juga sangat gelap bahkan jauh lebih gelap dibanding di luar tadi.

Evan Akbar, peneliti senior di Bosscha, sudah siap memandu kami. Objek pertama yang kami amati adalah bintang Fomalhaut. Setelah melihat bintang ini melalui eyepieces ternyata apa yang saya lihat dengan mata langsung dan yang melalui teleskop tidak jauh berbeda, hanya saja dengan teleskop, bintang Fomalhaut ini lebih terlihat putih kebiruan. Teleskop ini juga keren banget kalau buat melihat permukaan bulan, bahkan kawahnya bisa terlihat jelas, tapi sayangnya bulan sudah tenggelam duluan.

Di dalam ruangan ini sebenarnya “cukup hangat” namun karena kubahnya terbuka lebar tetap saja angin malam bisa masuk. Karena saking ngantuknya saya sampai ketiduran sejam di sini. Kaget banget waktu bangun dan sadar kalau ternyata sudah sepi. Saya buruan balik ke tempat Zainuddin, Rayhan masih setia nimba ilmu di sini karena dia lagi belajar cara makai kamera CCD milik Planetarium yang baru pertama kali ini dipakai sejak dibeli dari dulu. Beberapa peserta wanita sudah kembali ke villa dari tadi.

Karena kondisi langit yang malah semakin berawan malam ini, akhirnya jam 1 malam saya dan beberapa peserta kembali ke villa.

Free time di Minggu pagi

Minggu pagi, disediakan teleskop refraktor Sky Watcher di halaman villa buat yang mau ngamatin matahari. Beberapa peserta ada yang tidur sampai siang (termasuk saya), ada yang mainan air, nyari serangga, ngobrol ngalor ngidul, pokoknya beneran free time karena kami tinggal menunggu waktu buat pulang siang ini.

Selepas makan siang, kami kembali ke Bosscha buat silaturahmi dengan pengurus, namun sayangnya mereka sedang tidak di tempat. Lalu kami menuju halaman kubah teleskop Zeiss yang merupakan tempat puncak acara penutupan star party, apalagi kalau bukan seru-seruan selfie bareng semua peserta star party Bosscha.. yeaayyy!!

selfie bareng peserta star party di depan kubah teleskop Zeiss

selfie bareng peserta star party di depan kubah teleskop Zeiss

Tepat jam 13.30 kami bertolak dari Lembang menuju Jakarta, kemacetan sepanjang jalan menghantui kami di siang ini, 5 jam habis di perjalanan untuk tiba kembali di Planetarium Jakarta, namun puas rasanya kami bisa mengikuti star party kali ini.

Kesan pesan di balik acara star party

Saya pribadi sebagai astronom amatir yang hanya sebatas hobby ngamatin langit mendapat segudang manfaat ikut acara ini. Impian saya yang belum kesampaian buat punya teleskop sendiri yang mahal dapat terpuaskan selama di sana. Sensasi saat melihat deep sky objects di kondisi langit yang bagus rasanya mustahil bisa saya peroleh di atas langit Jakarta.

Senang rasanya bisa berjumpa dengan opa Zeiss, opa Bamberg, dan opa Schmidt, tiga sekawan penghuni lama yang telah menjadi saksi sejarah perkembangan ilmu astronomi di Bosscha.

Selain saya, ada juga geng unyil yang ditemani orang tuanya, terdiri dari empat sekawan Ceca, Syabil, Husayn, dan Atala, mereka adalah peserta cilik homeschoolers yang sudah sering ikutan star party, mereka mengungkapkan kebahagiaannya saat mencoba teleskop canggih di Bosscha.

Peserta lain yang ikut berasal dari berbagai golongan usia dan latar belakang pendidikan yang berbeda, bahkan yang tidak berkaitan dengan astronomi. Semua bisa nyambung berkat HAAJ yang sukses mewadahi hobby kami.

Teman baru, pengalaman baru, cerita baru.. Terima kasih HAAJ, sampai bertemu kembali di star party berikutnya :)

7 Responses to “Merasakan sehari jadi peneliti di observatorium Bosscha”

  1. Fahmi (catperku.info) December 1, 2014 at 6:47 pm #

    acara star party ini ada rutin enggak ya? terus syarat untuk ikutan bagaimana? :D *kepengen*

    • iwayful December 8, 2014 at 8:50 am #

      iya rutin 3 bulan sekali, syaratnya cukup aktif datang ke pertemuan rutin HAAJ di planetarium yg diadain setiap 2 minggu sekali

      • Fahmi (catperku.info) December 8, 2014 at 8:52 am #

        waaah, harus di bandung berarti ya? atau ini di planetarium jakarta?

      • iwayful December 8, 2014 at 9:46 am #

        sepertinya bisa kalau mau kemping bawa tenda sendiri di dekat danaunya, paling cuma minta izin nginap ke penjaganya, tapi saya belum pernah nyoba

      • iwayful December 8, 2014 at 9:47 am #

        bukang di bandung, ini yg di planetarium jakarta, kalau mas fahmi tinggal di jakarta sempatin aja mampir

      • Fahmi (catperku.info) December 8, 2014 at 9:48 am #

        hoo, iya – iya, biasanya kumpul hari apa? :D

      • iwayful December 8, 2014 at 9:58 am #

        pertemuan rutin setiap sabtu sore sampai malam, update infonya bisa follow facebook Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, supaya tau jadwal pertemuan selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: