Serunya berburu Milky way ke Ciamis

16 Jul

“Astronomy is much more fun when you’re not an astronomer..” -Brian May-

Berawal dari mainan dan hobi baru ber-stargazing, membuat saya mengenal lebih dekat pada satu komunitas yang juga hobi stargazing yaitu Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ).

Sejak awal Mei lalu saya mulai aktif datang ke pertemuan rutin dwi-mingguan yang diadakan HAAJ di Planetarium Jakarta, hingga sampailah pada satu topik menarik yang membahas astrophotography, yaitu memotret objek benda langit.

Rayhan, salah seorang dedengkot HAAJ, didaulat sebagai presenter pada pertemuan kali ini, pengalamannya sudah tidak diragukan lagi sebagai seorang astrophotographer yang telah menghabiskan ribuan jam begadang demi memotret langit dan memburu Milky way beserta ribuan deep sky objects-nya. Karya masterpiece-nya yang sering di-upload di halaman facebook-nya akan keindahan warna-warni bintang di langit malam membuat kami iri ingin bisa mencuri ilmu langsung dari sang ahli.

salah satu masterpiece astrophotography berupa deep sky object yang bernama Lagoon Nebula karya Rayhan (Anyer, 30 April 2014)

salah satu masterpiece astrophotography berupa deep sky object yang bernama Lagoon Nebula karya Rayhan (Anyer, 30 April 2014)

masterpiece terbaru berupa double deep sky objects bernama M21 Open Cluster dan M20 Trifid Nebula karya Rayhan (Pulau Pramuka, 28 Juni 2014)

masterpiece terbaru berupa double deep sky objects bernama M21 Open Cluster dan M20 Trifid Nebula karya Rayhan (Pulau Pramuka, 28 Juni 2014)

Beberapa peserta yang antusias datang ke pertemuan itu sudah membawa peralatan kamera lengkap, mulai dari kamera pocket, kamera handphone, kamera DSLR, kamera pinjeman, bahkan sampai kamera lubang jarum demi bisa menghasilkan foto sebagus dia. Namun berhubung langit mendung, terpaksa kami hanya bisa menelan mentah-mentah semua teori yang sudah dijelaskan olehnya.

Demi mengobati kekecewaan fans setia para pemburu bintang, akhirnya HAAJ di akhir pertemuan tersebut mengumumkan rencana kegiatan untuk kembali mengadakan acara star party yang merupakan agenda rutin empat kali dalam setahun, tentunya kali ini bertema astrophotography.

Apa sih star party itu?

Star party sesuai dengan namanya, kita akan berpesta di tempat outdoor sembari minum-minum semalam suntuk sampai pagi, tapi bukan dalam arti negatif, melainkan minuman yang bisa membuat kita on semalaman seperti kopi, jahe, energen, wedang ronde, pokoknya semua minuman yang bisa bikin mata melek, menjaga stamina, dan mengusir masuk angin.

Kegiatan star party yang diadakan HAAJ pada dasarnya merupakan praktek langsung dari semua teori yang telah dipaparkan di pertemuan rutin dwi-mingguan tersebut. Star party kali ini adalah yang kedua kalinya diadakan HAAJ di tahun 2014, akan berlangsung non-stop selama 3 hari 4 malam tanggal 3-6 Juli yang bertepatan dengan awal bulan Ramadhan.

Lokasinya yang dipilih cukup unik, beda dengan party lain yang umumnya di tengah kota, penuh dengan gemerlap lampu disko dan kepulan asap tembakau plus asap knalpot, kami justru mencari lokasi yang terpencil, jauh dari kota, masuk sampai ke pedalaman, tanpa polusi udara, kalau bisa malah yang gelap gulita dan masih sering terkena pemadaman listrik oleh PLN.

Desa Rancah di Ciamis yang merupakan kampung halaman Ronif, salah satu pengurus HAAJ, terpilih sebagai lokasi star party kali ini karena tempatnya masih di pedesaan yang polusi cahaya dan polusi udaranya masih sedikit sehingga dapat mengoptimalkan observasi malam.

Syarat untuk bisa ikut star party kali ini cukup berat, saya sampai harus membaca kembali tulisan karya ilmiah saya di kampus dulu demi membuat workplan berbobot yang akan diseleksi oleh panitia. Kuota kali ini hanya tersedia bagi 15 orang yang beruntung, penilaian supaya bisa lolos seleksi bukan hanya dari berkualitasnya isi workplan kita, namun juga dari niat tulus dan rasa antusias ingin belajar supaya peserta tidak menganggap star party ini hanya sekedar jalan-jalan biasa.

Akhirnya dari ratusan peserta yang berniat ikut, hanya 13 peserta yang berhasil lolos dan jadi berangkat.

Dari stasiun Kota menuju stasiun Banjar

Kamis jam 8 malam (3 Juli) kami semua bertemu di stasiun Jakarta Kota, briefing sejenak sambil saling berkenalan dan bagi-bagi tiket perjalanan. Tim HAAJ terdiri dari Rayhan, duo Ronnys & Ronif, Pak Widya, Azis, Ria, Dmirza, dan pesertanya duo Iwan & Ayu (Iway), Emir, Munif, Febri, dan Ceca.

Ceca merupakan peserta termuda, awalnya saya kira dia ikut bareng keluarganya karena diantar oleh papa mama dan adiknya, ternyata setelah masuk peron stasiun Ceca ditinggal sendirian pergi bersama kita, perjalanan ini bagaikan ujian kehidupan bagi Ceca yang saat ini bersekolah di home schooling.

rendezvous para peserta star party di stasiun Kota (Jakarta)

rendezvous para peserta star party di stasiun Kota (Jakarta)

Buat kebutuhan sandang selama 3 hari 4 malam, tas ransel saya berisi amunisi seberat 10 kg, cukup beruntung rasanya setelah tahu ternyata banyak dari mereka yang bahkan sampai bawa dua tas ransel plus tentengan. Emir bawa dua tas ransel plus satu tas tripod yang beratnya sendiri sudah sekitar 3 kg, Rayhan bawa tas ransel tinggi ala backpacker berisi tumpukan sandang, laptop buat mengedit foto sampai peralatan fotografi yang terdiri dari 2 kamera DSLR dilengkapi beberapa lensa. Azis yang bawaan ranselnya paling ringan malah ketiban rezeki disuruh bawa tripod teleskop yang beratnya sekitar 5 kg. Dmirza dan Ronif kebagian ngedorong ember kotak besar berisi perlengkapan observasi seberat 10 kg. Kelihatannya rombongan kami lebih mirip orang mau pindahan daripada traveller.

Kereta yang akan kita tumpangi adalah kereta ekonomi Serayu tujuan Jakarta – Purwokerto, demi menghemat waktu kita memilih gerbong pertama supaya lebih cepat sampai tujuan. Dari awalnya semangat nungguin jadwal kedatangan kereta jam 21, lama-lama capek juga jongkok di peron tanpa tempat duduk nunggu sampai sejam baru keretanya datang.

Walaupun kelas ekonomi tapi kereta ini sudah dilengkapi AC, kebetulan beberapa bangku ada yang masih kosong sehingga kita bebas pindah tempat duduk supaya bisa puas tidur selonjoran nempatin satu bangku sendirian. Jam 4 kita bangun sahur lalu shalat Subuh dan lanjut tidur lagi. Kalau sesuai jadwal seharusnya jam 5 pagi kita sudah sampai, baru akhirnya jam 7 pagi kereta tiba di stasiun Banjar, jadi total perjalanan sekitar 8 jam lebih.

selamat datang di Ciamis

selamat datang di Ciamis

Dua mobil kijang sewaan yang sudah siap menanti sejak Subuh tadi terpaksa harus dipanasin lagi mengingat cuaca pagi ini yang mendung disertai gerimis dengan suhu sekitar 25 derajat celcius. Tanpa menunggu aba-aba dari kenek, supir langsung tancap gas menuju desa Rancah.

dua mobil kijang muat buat menampung semua peserta plus barang bawaan

dua mobil kijang muat buat menampung semua peserta plus barang bawaan

Kalau di Jakarta waktu tempuh 1 jam naik mobil mungkin hanya bisa melaju sejauh 5 km, di sini sudah dapat 20 km lebih sampai di tujuan. Hampir sepanjang jalan kami melewati rindangnya hutan yang berisi pohon karet. Setibanya di sana, kami disambut oleh neneknya Ronif.

Survey lokasi pengamatan

Karena baru jam 8 pagi, sambil nunggu waktu Jumatan, banyak yang leyeh-leyeh tiduran di lantai sampai akhirnya ketidur pulas akibat terlalu lamanya tersiksa tidur di kereta tadi. Baru pada bangun jam 12, akhirnya pada telat Jumatan karena di sini ceramahnya cuma 10 menit, jadi pada ketinggalan shalat. Cuma saya bertiga bareng Rayhan dan Ronif yang sempat absen Jumatan, itupun hampir ketinggalan. Maklum rombongan musafir pada mengharap keringanan.

Selesai shalat Jumat, acara dilanjutkan dengan tour keliling kampung dipandu Ronif buat mencari lokasi observasi malam nanti. Ronif menyarankan kita ke lapangan bola, karena selain di perbukitan, lokasinya cukup lapang buat mengamati seluruh penjuru langit, namun sayang tanahnya becek karena habis hujan semalam.

melintasi sawah menuju lokasi observasi nanti malam

melintasi sawah menuju lokasi observasi nanti malam

butuh tekad kuat melewati jalan menanjak 1 km lebih saat lagi berpuasa

butuh tekad kuat melewati jalan menanjak 1 km lebih saat lagi berpuasa

akhirnya tiba di lapangan bola dan rehat sejenak

akhirnya tiba di lapangan bola dan rehat sejenak

Karena kakinya sudah pada lemas habis melahap tanjakan sejauh 1 km tadi akhirnya malah pada lesehan di lapangan sambil ngeliatin Ceca yang lagi mainin ulat pohon yang berasal dari batang pohon kelapa yang sudah tumbang di tengah lapangan ini, aneh juga yaa bisa ada batang pohon kelapa di tengah sini, mungkin kalau malam dijadikan tempat duduk buat pacaran kali yaa?! Kan enak juga tuh ngajak pacar berduaan duduk gelap-gelapan sambil mandangin Milky way, beda deh sensasinya dibanding duduk di dalam planetarium.

Balik ke rumah sudah sore, nunggu satu setengah jam lagi buat berbuka, beberapa ada yang bantu masak bareng nenek buat bikin persiapan menu berbuka dan makan malam. Waktu bedug tiba, syrup kelapa muda dingin segar ditemani bakwan goreng sudah siap menemani kami kumpul berbuka bersama.

Berburu bintang di langit mendung

Selesai makan malam, kami bersiap memburu Milky way, kebetulan banget listriknya lagi padam. Kita milih buat mengamati di teras rumah Ronif karena buat jalan ke lapangan bola tadi sudah pada males karena kejauhan dan nanjaknya itu loh yang bikin kaki kesemutan.

teras depan rumah Ronif buat tempat observasi malam

teras depan rumah Ronif buat tempat observasi malam

Ribuan bintang sempat terlihat sebelum akhirnya tertutup awan mendung. PLN seakan sudah tahu kalau kita batal ngamatin bintang, akhirnya listrik di desa ini dinyalain lagi. Daripada ngeliat muka pada manyun, Rayhan inisiatif ngeluarin laptopnya dan mulai mengajak kami diskusi terkait astrophotography, terutama seputar proses mengedit foto supaya hasil fotonya terlihat jauh lebih colorful dibanding yang terlihat oleh mata langsung. Dia juga mengajarkan teknik menyulam foto tanpa perlu menggunakan mesin jahit, teknik ini berguna untuk menggabungkan beberapa foto agar hasilnya terlihat lebih lebar, yang mana akan sangat berguna untuk membuat foto landscape yang memanjang ke samping.

Sudah lewat tengah malam langitnya masih juga mendung, akhirnya kami memilih tidur. Habis kami bangun sahur langitnya masih mendung juga, jadi lanjut tidur lagi deh sampai pagi.

Berburu lindung di tepi sawah

Welcome Saturdaaay!!!

Saya terbangun jam 7 pagi, di teras sudah ada Rayhan, Azis dan Dmirza yang kompak bikin simpul buat mancing lindung. Kebetulan ada sawah di dekat rumah Ronif, kami hanya perlu jalan kaki sebentar menuruni jalan setapak yang tanahnya licin karena masih basah, Ceca yang saking semangatnya jalan sampai terpeleset dan celananya jadi coklat semua karena ngesot di tanah.

Sebelum berburu lindung tentunya harus berburu cacing dulu sebagai umpannya. Rayhan dengan sukarela berkotor-kotoran nyelupin kaki dan tangannya ke tanah sawah yang becek ini demi mencari sesuap cacing.

Rayhan sedang berburu cacing tanah ditemani Ceca dan Pak Wid

Rayhan sedang berburu cacing tanah ditemani Ceca dan Pak Wid

Setelah cacing terkumpul dan dipasang di kait, perlahan kami celupkan ke dalam lubang penyelinapan lindung yang ada di dalam tanah. Sampai sejam bergulat dengan lumpur, belum juga ada lindung yang ketangkap basah, alhasil yang dibawa pulang hanya umpan cacing tanah yang tersisa. Ternyata lindung juga lagi ikutan puasa bareng kita pantesan pada ogah makanin umpannya.

yang kiri ada Rayhan lagi nguber lindung, yang kanan Ceca malah asyik manen padi

yang kiri ada Rayhan lagi nguber lindung, yang kanan Ceca malah asyik manen padi

Bukannya nemu lindung tapi kami tadi malah sempat menemukan jejak pendaratan UFO di tengah sawah, terlihat dari jejak padi yang merebah membentuk lingkaran besar, namun sepertinya mereka sudah pulang tadi malam sebelum menyapa kami.

Ria sedang meneliti jejak pendaratan UFO di tengah sawah yang datang semalam

Ria sedang meneliti jejak pendaratan UFO di tengah sawah yang datang semalam

Ngabuburit nunggu bedug Maghrib

Menunggu waktu berbuka yang masih lama, ada banyak kegiatan positif yang bisa kami lakukan di sini, buat yang perlu siraman rohani bisa tadarusan bareng Azis, yang belum ngerasa haus bisa jalan kaki keliling kampung buat manen buah-buahan yang matang di pohon bareng pak Wid, buat yang mau hemat ke bioskop bisa nonton film box-office di laptop bareng Ayu dan Ria, buat yang cita-citanya jadi sutradara tapi belum kesampaian bisa bikin video dokumentasi perjalanan bareng Dmirza, buat yang doyan ngemil bisa bantuin chef Rayhan di dapur, buat yang lagi homesick tapi sinyalnya jelek bisa gangguin Ceca yang lagi asyik nelponin mamanya, yang masih ngantuk bisa gabung tidur-tiduran di lantai bareng Emir, buat yang mau belajar cara masang tripod alt-azimuth dan equatorial bisa merapat ke Ronnys yang lagi men-setting tripod untuk observasi malam nanti, dan masih banyak lagi kegiatan ngabuburit lainnya yang bisa kami isi sampai waktu bedug tiba.

chef Rayhan sedang sibuk memasak di dapur

chef Rayhan sedang sibuk memasak di dapur

Ria dan Ayu sedang asyik nonton film di ruang tengah tempat kami bermalam

Ria dan Ayu sedang asyik nonton film di ruang tengah tempat kami bermalam

Vixen Polarie berlatar belakang Emir dan Dmirza yang lagi serius diskusi bareng Ronnys seputar astrophotography

Vixen Polarie berlatar belakang Emir dan Dmirza yang lagi serius diskusi bareng Ronnys seputar astrophotography

Mendung lanjutan di malam kedua

Selesai berbuka dan makan malam, penampakan langit masih sama seperti kemarin malam, bulan Juli yang seharusnya sudah berada di musim kemarau sepertinya tidak berlaku untuk tahun ini. Malam ini pun hanya kami lewati dengan menonton tivi yang isinya debat kusir ala presiden. Beberapa ada yang terlihat sudah meringkuk di balik selimut, suasana malam ini memang nikmat banget dibawa tidur, bunyi hujan gerimis di luar bagaikan lagu lullaby pengantar tidur.

Tips memburu Milky way

Saya lebih memilih berdiskusi dan mendengarkan cerita Ronnys yang sudah puluhan kali menjelajahi spot-spot menarik untuk memburu Milky way, dengan senang hati dia menunjukkan beberapa masterpiece karyanya sewaktu camping ke Bromo, Dieng dan Anyer yang disimpan di hape-nya. Ronnys berbagi tips buat yang mau foto Milky way sebaiknya pakai lensa wide dengan bukaan diagframa besar, selain itu hal penting lainnya adalah kapasitas memory card yang besar dan terakhir dia mengeluarkan 5 buah baterai cadangan sebagai amunisi yang wajib dibawa bila kita ingin begadang semalam suntuk memburu Milky way, ngga mau kan kita lagi asyik motret Milky way di tengah lokasi yang jauh di pedalaman terus kehabisan baterai dan harus balik ke rumah cuma buat nge-charge.

masterpiece karya Ronnys yang mengabadikan Milky Way di atas langit Anyer (10 Juni 2013)

masterpiece karya Ronnys yang mengabadikan Milky Way di atas langit Anyer (10 Juni 2013)

Rayhan juga membawa alat tracking untuk memotret bintang supaya hasilnya tidak seperti foto star trail, yaitu Vixen Polarie yang dipasang pada body kamera DSLR supaya membantu kita saat memotret rasi bintang ataupun Milky way dengan bidang pandang yang luas.

Nonton kabut di pagi hari

Esok paginya setelah sahur dan shalat Subuh, kami rencana ingin berburu sunrise. Sambil menunggu pagi supaya tidak ngantuk kami gelar tikar di teras depan sambil nonton film box office di laptop Rayhan yang berisi ribuan film bajakan dari dalam hingga luar negeri.

Film The Mist menjadi pilihan karena sangat mendukung sekali dengan cuaca pagi ini yang masih berkabut putih. Ceca yang ikutan nonton awalnya takut karena dikira bakal dikagetin hantu, tapi malah tertarik setelah tahu hantunya monster binatang mutan. Selesai nonton bukannya sunrise yang muncul tapi malah sekarang turun gerimis. Karena mata sudah terasa berat, mending tidur sebentar sambil nunggu hujan berhenti.

Happy Sun-day with the Sun

Agak siangan matahari mulai muncul dari balik awan, akhirnya teleskop yang dibawa bisa terpasang juga, ngga sia-sia deh jadinya, setidaknya bisa ngamatin satu bintang pada star party kali ini.

Teleskop ini baru dibeli HAAJ untuk melengkapi koleksi beberapa teleskop lainnya, jadi masih fresh dan tabungnya masih licin. Teleskop refraktor merk Skywatcher jenis akromatik ini memiliki lensa objektif berdiameter 90 mm dengan focal length 910 mm, dilengkapi juga dengan equatorial mounting.

Untuk mengamati matahari, bagian depan lensa teleskopnya ditutupi dengan filter matahari buatan Thousand Oaks Optical supaya aman bagi mata maupun sensor kamera. Bila dilihat sekilas, filter matahari ini tampak seperti cermin biasa, namun berfungsi sangat efektif dalam menangkal radiasi sinar infra-red dan ultraviolet.

Iway lagi ngetes motret filter matahari yang diarahkan langsung ke matahari

Iway lagi ngetes motret filter matahari yang diarahkan langsung ke matahari

Dengan tambahan alat berupa t-ring membuat teleskop ini dapat menjadi lensa utama bagi yang membawa kamera DSLR, teknik ini dikenal dengan sebutan prime focus, magnifikasi yang dihasilkannya sekitar 20x.

Enaknya pakai teknik prime focus ini selain bisa memotret objek celestial juga bisa buat objek terestrial. Sebelum mencoba motret matahari saya mengarahkan teleskop ini ke pohon kelapa yang berjarak sekitar 100 meter, hasilnya lumayan tajam bahkan semut yang lagi minum buah kelapa sampai terlihat jelas sedotannya. Namun karena lensanya masih akromatik sehingga muncul chromatic aberration yang terlihat dari warna keunguan di tepi objek berlatar belakang cahaya yang kontras.

chromatic abberation dari lensa teleskop ini terlihat jelas pada objek berlatar belakang cahaya terang sehingga muncul warna keunguan di tepinya

chromatic abberation dari lensa teleskop ini terlihat jelas pada objek berlatar belakang cahaya terang sehingga muncul warna keunguan di tepinya

Matahari siang ini lumayan terik, banyak sunspot yang bisa diamati, seru juga ngamatin matahari yang bersinar terang dan sesekali dilewati awan yang juga berfungsi sebagai filter sehingga membuat warnanya berubah-ubah mulai dari kuning terang, oranye, coklat kemerahan, sampai kuning lagi. Makin siang bikin sengatannya makin terasa, kulit yang sudah mulai gosong menandakan bahwa kami harus mengakhiri pengamatan siang ini.

Ceca sedang mengamati matahari dipandu oleh Ronnys

Ceca sedang mengamati matahari dipandu oleh Ronnys

Emir nyobain motret matahari dengan kamera DLSRnya

Emir nyobain motret matahari dengan kamera DLSRnya

foto matahari yang fokus dan tajam lengkap dengan sunspot-nya hasil jepretan saya

foto matahari yang fokus dan tajam lengkap dengan sunspot-nya hasil jepretan saya

Selanjutnya tinggal mandi dan packing ransel, sambil nunggu waktu luang sampai nanti sore kami semua bantuin nenek memasak buat keperluan kami berbuka dan sahur di kereta nanti, semua nampak sibuk di dapur ditemani aroma indomie goreng, rendang, dan pisang goreng.

Sayonara Rancah..

Akhirnya jam 3 sore jemputan mobil kijang sudah siap mengantar kami kembali ke stasiun Banjar, langit yang sedih karena kami harus meninggalkan desa Rancah menurunkan hujan yang mengguyur deras sebagai bentuk penyesalannya karena kami tidak bisa motret Milky way.

berpisah dengan nenek Ronif sebelum pulang ke Jakarta

berpisah dengan nenek Ronif sebelum pulang ke Jakarta

Tiba di stasiun Banjar jam 5 sore, masih cukup waktu buat nunggu berbuka di lounge ruang tunggu stasiun. Keretanya kali ini datang tepat waktu sesuai jadwal kedatangan jam 19. Karena berat rasanya ingin meninggalkan kota Ciamis jadi kami memilih gerbong 6 yang merupakan gerbong terakhir dari kereta Serayu supaya kami bisa melihat kota ini untuk yang terakhir kalinya.

Keretanya penuh banget, tidak enaknya naik dari stasiun pertengahan karena bangku kita sudah ada yang nempatin, sempat adu argumen sebentar sama penumpang itu sampai akhirnya kita menang dan bisa berjaya menempati bangku yang sesuai dengan nomor tiket. Biar makin berkesan kami rela desak-desakan demi mengabadikan foto terakhir di dalam kereta ini, karena saking hebohnya sampai diomelin sama penumpang lain. Keretanya penuh banget, jadi tidak bisa pindah nyari bangku kosong buat selonjoran lagi deh, terpaksa harus merelakan tidur sambil duduk tegak sepanjang 8 jam perjalanan.

seru-seruan selfie bareng di kereta saat perjalanan pulang ini

seru-seruan selfie bareng di kereta saat perjalanan pulang ini

Welcome back to Jakarta

Jam 4 pagi kereta melintas tepat waktu di stasiun Bekasi, singgah buat rehat sejenak sekitar 5 menit, waktu yang singkat ini tidak saya sia-siakan untuk mengucapkan terima kasih pada semua peserta star party kali ini karena tanpa mereka semua ini terasa biasa. Saya pun langsung melompat keluar gerbong di stasiun ini sementara yang lain lanjut sampai ke stasiun Kota.

Walaupun tidak sempat menemukan Milky way selama di sana namun tidak membuat saya kecewa karena saya telah menemukan arti dari sebuah pertemanan baru di petualangan star party kali ini.

“Penemuan arti dari sebuah persahabatan jauh lebih bernilai dari penemuan Milky way itu sendiri..” -Iway-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: