Menikmati keheningan alam di desa wisata Cibuntu

28 Jun

Jalanan macet, bisingnya suara klakson, polusi asap kendaraan, sibuk nge-update status, seakan menjadi hal yang langka. Namun sebaliknya, perasaan yang menyatu kembali dengan alam, saling gotong-royong dan beramah-tamah antar warga, menikmati olahan makanan tradisional, terasing dari dunia on-line, merupakan hal yang sangat mudah ditemui.

wajah asri desa wisata Cibuntu di kaki gunung Ciremai

wajah asri desa wisata Cibuntu di kaki gunung Ciremai

Dua hari itulah yang saya rasakan saat pertama kalinya saya mengunjungi suatu desa yang berada di bawah kaki gunung Ciremai di Jawa Barat yang juga merupakan desa paling ujung, desa Cibuntu.

Meskipun letaknya paling ujung, namun desa ini kini telah berubah menjadi desa wisata dan mudah diakses oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara berkat dukungan dan kerjasama dari tim Pascasarjana Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti Jakarta beserta KLS tour & travel.

Perjalanan saya dimulai pada Sabtu pagi (10 Mei) tepat jam enam dari kampus STP Trisakti di Bintaro. Dua bus berukuran sedang dan besar telah siap membawa sekitar puluhan tim pascasarjana STP Trisakti menjauhi rutinitas warga ibukota. Field trip menuju desa wisata Cibuntu kali ini merupakan bagian dari acara memperingati Dies Natalis STP Trisakti yang ke 45.

Kami mengambil jalur pantai utara mulai dari tol Cikampek lalu menyusuri Indramayu – Jatibarang – Palimanan – Plered – Mandirancan – Paniis dan berakhir di desa wisata Cibuntu.

Wilujeng sumping di desa Cibuntu

Tepat jam tiga sore kami sampai di Cibuntu setelah melewati sembilan jam perjalanan yang cukup melelahkan diselingi istirahat makan siang. Rupanya kedatangan kami sudah siap disambut oleh warga desa, mulai dari kesenian tarian tradisional hingga menikmati sajian khas welcome drink ala Cibuntu yaitu Jasreh yang merupakan perpaduan jahe dan sereh hangat disertai kudapan singkong dan ubi yang masih hangat.

sambutan tarian tradisional khas Jawa Barat

sambutan tarian tradisional khas Jawa Barat

menikmati Jasreh, welcome drink khas Cibuntu, ditemani kudapan ubi dan singkong

menikmati Jasreh, welcome drink khas Cibuntu, ditemani kudapan ubi dan singkong

Tenaga kami yang terkuras sembilan jam di perjalanan seketika refresh seperti awal pagi tadi. Tidak lupa sambutan langsung dari kepala desa Cibuntu, Bapak Awam, yang menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran kami. Sambutan ditutup dengan penampilan ‘teh Intan yang dengan gemulai menarikan Jaipongan di depan balai desa.

Bapak Awam, kepala desa Cibuntu, memberikan sambutan hangat

Bapak Awam, kepala desa Cibuntu, memberikan sambutan hangat

teh' Intan menampilkan kegemulaiannya dalam tari Jaipongan

teh’ Intan menampilkan kegemulaiannya dalam tari Jaipongan

Kami lalu diantar menuju homestay masing-masing yang merupakan rumah warga desa sini. Meskipun tergolong biasa dan sederhana namun kenyamanannya seperti pulang kampung ke rumah sendiri, kesan inilah yang ingin diberikan oleh desa wisata Cibuntu. Bu Een, pemilik rumah yang saya tempati, tidak menganggap kami sebagai tamunya, tapi lebih dari itu, kami sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

kesederhanaan rumah bu Een yang menjadi homestay tempat saya menginap

kesederhanaan rumah bu Een yang menjadi homestay tempat saya menginap

Bersiap tour menjelajahi desa

Jam empat sore kami sudah berkumpul kembali di balai desa, kegiatan kami selanjutnya adalah trekking keliling desa yang dipandu oleh beberapa pemuda desa, mulai dari melihat situs batu peninggalan purbakala yang terdapat beberapa di sekitar desa ini.

Pak Syukur Mulyana (perwakilan KLS Tour & Travel) turut menjadi tour guide

Pak Syukur Mulyana (perwakilan KLS Tour & Travel) turut menjadi tour guide

Lalu kami berjalan melintasi hutan untuk menuju air terjun. Di awal memasuki hutan ini kami kembali menemui situs yang bernama situs Hulu Dayeuh, yang konon kata penduduk sekitar bentuk permukaan batunya tampak seperti muka macan bila dilihat dari sudut pandang tertentu. Tepat di sebelah kanan situs ini terdapat jalan setapak menanjak yang merupakan jalur pendakian menuju puncak gunung Ciremai, pak hansip yang ikut mengantarkan tour ini mengatakan butuh waktu sekitar 12 jam untuk sampai ke puncaknya, namun ini bukan jalur pendakian yang umumnya dilewati pendaki karena tidak ada pos penjagaannya.

situs Hulu Dayeuh yang berada di bawah naungan pohon besar

situs Hulu Dayeuh yang berada di bawah naungan pohon besar

batu purbakala berbentuk muka macan bila dilihat dari sudut pandang tertentu

batu purbakala berbentuk muka macan bila dilihat dari sudut pandang tertentu

jalur pendakian menuju puncak gunung Ciremai

jalur pendakian menuju puncak gunung Ciremai

Setelah situs ini kami melewati jalan turunan menyeberangi sungai melalui “jembatan cinta” yang pembuatannya diprakarsai oleh tim Pascasarjana STP Trisakti, jembatan bambu dengan rangka besi ini dinamakan demikian karena lebarnya hanya pas untuk dua orang jalan bergandengan melewatinya.

Sungai yang kami lewati ini berasal dari mata air Cikahuripan, kami berhenti sebentar untuk sekedar mencuci tangan dan muka di mata air ini yang konon penduduk desa Cibuntu meyakini khasiat air ini dapat membuat kita awet muda dan sehat karena kesegarannya.

berpose bersama pemuda karang taruna desa Cibuntu yang menjadi tour guide

berpose bersama pemuda karang taruna desa Cibuntu yang menjadi tour guide

serunya menyeberangi jembatan cinta buat yang lagi mengajak pasangan

serunya menyeberangi jembatan cinta buat yang lagi mengajak pasangan

sungai dari mata air Cikahuripan yang kesegarannya membuat awet muda

sungai dari mata air Cikahuripan yang kesegarannya membuat awet muda

Selepas mata air ini kami melewati deretan hutan bambu yang ditanam oleh tim Pascasarjana STP Trisakti sekitar tiga tahun yang lalu, kini ketinggian pohon bambu tersebut bahkan ada yang sudah mencapai lima meter lebih.

melewati rindangnya hutan bambu ditemani kesunyian gemerisik daun bambu

melewati rindangnya hutan bambu ditemani kesunyian gemerisik daun bambu

Sekitar 15 menit lebih kami lelah menanjak demi melihat keindahan air terjun, bagi anda yang sudah kelelahan ada baiknya berhenti sejenak untuk mengambil napas. Di tengah rute ini disediakan bangku bambu untuk sekedar mengistirahatkan kaki sejenak, latar belakang pepohonan yang hijau dan kesejukan hawa pegunungan bikin lupa waktu kalau sudah duduk di bangku ini.

ini bukan lagi nunggu angkot loh yaa :)

ini bukan lagi nunggu angkot loh yaa :)

Dari sini sudah terdengar gemuruh air terjun, hanya lanjut jalan sebentar akhirnya semua perjuangan kami terbayar lunas setibanya di sana. Debit air yang mengalir dari air terjun dengan ketinggian sekitar sepuluh meter ini lumayan deras, beberapa peserta dari STP Trisakti ada yang langsung berenang tanpa takut tenggelam terbawa arus karena kedalamannya hanya sepinggang orang dewasa.

berenang sepuasnya di air terjun sambil minum airnya supaya makin awet muda

berenang sepuasnya di air terjun sambil minum airnya supaya makin awet muda

Singgah ke kampung kambing

Selepas air terjun ini perjalanan kami tidak sesulit tadi karena tinggal melewati jalan turunan menuju kampung kambing. Sesuai namanya, penghuni kampung ini semuanya kambing. Mereka memiliki rumah masing-masing dengan tipe cluster. Setahun penuh mereka dilayani layaknya tamu hotel oleh para pemiliknya, sampai hari penantian itu tiba, hari raya Idul Adha.

Ide kampung kambing ini tercetus untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bagi para penghuni desa sehingga kambing peliharaan mereka harus dipisahkan jauh dari desa dan dibuat tempat tersendiri. Meskipun terpisah jauh dari desa namun setiap malamnya ada beberapa pemuda yang saling bergantian menjaga di kampung kambing itu.

sepeda motor sedang melintasi jalan setapak dari kampung kambing yang terpisah jauh dari rumah penduduk desa Cibuntu

sepeda motor sedang melintasi jalan setapak dari kampung kambing yang terpisah jauh dari rumah penduduk desa Cibuntu

Tidak terasa sudah sejam lebih kami trekking sekitar dua kilometer mengelilingi desa Cibuntu ini. Kini selepas dari kampung kambing, kami kembali ke homestay untuk mandi dan istirahat sejenak. Airnya dingin menyegarkan khas pegunungan, pipanya langsung dialirkan dari mata air gunung Ciremai ke setiap rumah penduduk sehingga mereka tidak perlu lagi berlangganan air PAM.

Jam tujuh malam kami sudah berada kembali di balai desa untuk menikmati hidangan makan malam, piring yang disediakan unik karena terbuat dari dedaunan. Sembari makan, kami kembali disuguhi penampilan putra-putri desa Cibuntu yang membawakan kesenian tradisional, diselingi dengan iringan peserta kami yang juga ikut menari bersama turut menambah keriuhan suasana.

menikmati makan malam secara tradisional dengan menu masakan khas Cibuntu

menikmati makan malam secara tradisional dengan menu masakan khas Cibuntu

Serunya berburu sinyal tengah malam

Jam sembilan malam kami siap mengikuti acara puncak yang sudah kami tunggu dari sejak kami datang, yaitu acara berburu sinyal. Karena hanya di wilayah tertentu dari desa ini yang dapat dijangkau oleh sinyal handphone, otomatis membuat beberapa peserta tampak sangat antusias mengikuti acara ini sebab mereka sudah tidak sabar ingin meng-update status dan dan meng­-share foto-foto keindahan desa wisata Cibuntu ini lewat media sosialita.

Untuk menambah kehangatan melewati dinginnya udara malam, masing-masing peserta diberikan obor dari bambu untuk menerangi jalan menuju lapangan perburuan sinyal yang akan kami tuju. Cukup 10 menit kami berjalan dari balai desa menuju tempat itu, di tengah lapangan ini sudah tersedia tumpukan kayu bakar yang menggunung, lalu secara serentak kami menaruh obor yang kami bawa sehingga terciptalah api unggun yang besar.

berjalan ke lapangan menggunakan obor seperti jaman sebelum ada listrik

berjalan ke lapangan menggunakan obor seperti jaman sebelum ada listrik

bersiap membuat api unggun dengan menaruh obor

bersiap membuat api unggun dengan menaruh obor

keindahan nyala api unggun di tengah lapangan ini

keindahan nyala api unggun di tengah lapangan ini

Beberapa peserta terlihat bahagia karena kini mereka sudah terhubung kembali dengan dunia luar, inilah uniknya acara perburuan sinyal yang hanya ada di desa wisata Cibuntu. Namun beberapa peserta ada pula yang tidak terlalu mengkhawatirkan bila tidak dapat on-line lagi karena memang tujuan mereka ke sini untuk mengasingkan diri dari rutinitas keseharian.

Suasana malam itu sangat menyenangkan, langit yang cerah dipenuhi ribuan bintang, dari atas lapangan yang berada di perbukitan ini kami dapat memandang gemerlapnya cahaya lampu kota Cirebon yang berada di bawah sana. Untuk melengkapi suasana, warga sudah menyiapkan kambing guling dan jahe hangat buat menemani kami mengobrol melewati malam. Keakraban menyatu seiring dengan tenggelamnya kami menghirup segarnya hawa pegunungan di tengah kabut yang menyelimuti malam di Cibuntu.

Selamat pagi Cibuntu

Esok paginya saya terbangun karena suara kokokan ayam jago mendahului alarm di handphone saya, nyenyak sekali rasanya semalam seperti habis bermimpi indah. Selesai shalat Subuh, Bu Een ternyata sudah menyiapkan sarapan untuk kami. Saya lalu berjalan kembali ke lapangan untuk menikmati sunrise berlatar luasnya pemandangan sawah dan pegunungan.

suasana pagi hari di lapangan tempat berburu sinyal buat yang mau update status

suasana pagi hari di lapangan tempat berburu sinyal buat yang mau update status

Lalu saya kembali mengunjungi ke kampung kambing untuk melihat aktivitas apa yang biasa dilakukan kambing-kambing itu di pagi hari, dan ternyata mereka sedang asyik sarapan rumput hijau yang masih segar. Pak Milik, salah satu warga pemilik rumah cluster untuk kambingnya ini menemani saya mengobrol sejenak. Beliau bercerita, selain mengurus sawah, hampir semua warga desa Cibuntu memelihara kambing. Ibarat berinvestasi, mereka beternak kambing untuk dijual kembali.

Beliau juga menjelaskan, dalam setahun kambing bisa beranak hingga dua kali. Kambing yang melahirkan satu anak akan lebih bagus dan sehat pertumbuhannya dibanding yang melahirkan lebih dari satu anak. Di dalam kandang tersebut dibikin pemisah antara kambing jantang dengan yang betina.

salah satu rumah di kampung kambing berlatar belakang gunung Ciremai

salah satu rumah di kampung kambing berlatar belakang gunung Ciremai

Pak Milik yang sedang memberi makan kambingnya

Pak Milik yang sedang memberi makan kambingnya

Pak Milik sangat senang memelihara kambing karena mengurusnya mudah, makanannya tersedia berlimpah di sekitar desa, yaitu berupa dedaunan dan rerumputan. Beliau hanya perlu membayar uang keamanan dan listrik. Menjelang hari raya Idul Adha adalah hari dimana kambing-kambingnya bisa habis terjual semua, hanya yang masih muda saja yang disisakan untuk dijual kembali setelah dewasa nanti.

Selepas dari kampung kambing, saya mengitari sesaat di lingkungan desa ini yang asri dan bersih, rindangnya pohon dan banyaknya tanaman membuat penampilan desa ini layak mengikuti kontes Adipura tingkat propinsi.

wajah desa wisata Cibuntu yang asri dan menyegarkan

wajah desa wisata Cibuntu yang asri dan menyegarkan

Lomba masak ala STP Trisakti

Setelah puas blusukan, saya kembali ke balai desa untuk melihat serunya acara lomba memasak mahasiswa Pascasarjana STP Trisakti yang dinilai langsung oleh ibu-ibu warga desa Cibuntu. Acara lomba masak yang berakhir jam 12 ini ditutup dengan pembagian hadiah berupa perlengkapan memasak bagi pemenang lomba, lalu kami pun menyantap bersama hidangan yang dilombakan tadi.

serunya acara lomba masak di depan balai desa

serunya acara lomba masak di depan balai desa

Tidak terasa selesai sudah seluruh rangkaian acara Dies Natalis STP Trisakti kali ini. Sebelum pulang, kepala desa Cibuntu kembali mengucapkan terima kasih atas kedatangan rombongan kami karena berkat kerjasama kedua belah pihaklah yang akan dapat terus memajukan desa ini agar semakin terkenal dan banyak yang datang berkunjung ke desa wisata Cibuntu.

keakraban dan kekompakan tim Pascasarjana STP Trisakti saat berpose sebelum pulang kembali ke kota

keakraban dan kekompakan tim Pascasarjana STP Trisakti saat berpose sebelum pulang

Bagi anda, baik individu maupun rombongan, yang berminat merasakan serunya sensasi jauh dari kota untuk kembali ke suasana desa Cibuntu yang asri dapat menghubungi:

Perwakilan Cibuntu: Sdr. Ibnu 0817 907 0536

Perwakilan Jakarta (KLS tour & travel): Sdr. Syukur Mulyana 0812 886 95363 (klstravel99@yahoo.co.id)

Perwakilan STP Trisakti: Sdri. Endang Budiarti 0811 145 385

Perwakilan blog Iwayful: silahkan kirim komentar langsung untuk bertanya :)

sampai jumpa di desa wisata Cibuntu :)

sampai jumpa di desa wisata Cibuntu :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: