Wisata alam ke Situ Gunung

10 Apr

“ …tempat wisata yang murah, mudah dijangkau, dan belum terlalu ramai merupakan impian para wisatawan pada umumnya… “

Long-weekend di akhir bulan Maret kali ini saya manfaatkan untuk mencari tempat wisata alternatif yang belum pernah saya kunjungi namun juga belum terlalu banyak dikunjungi wisatawan. Teman saya menyarankan satu tempat yang menarik untuk trekking di pegunungan yang terdapat di dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), tepatnya di kawasan Situ Gunung, Sukabumi. Jarak yang tidak terlalu jauh menuju ke sana, sekitar 120 km sehingga bisa bawa mobil sendiri, memberi kemudahan bagi saya.

20130408 01

Trekking yang saya maksud di sini tidak sampai mendaki ke puncak gunung Gede Pangrango, karena memang bukan lewat jalur ini bila ingin sampai ke puncak, namun melalui jalur Salabintana, Cibodas, ataupun Gunung Putri.

Setelah googling dan mendapatkan banyak cerita menarik para wisatawan yang telah berkunjung ke sana, saya pun mulai mencari akomodasi. Awalnya agak sulit karena masih sedikit info penginapan yang tersedia di internet, akhirnya saya pun menemukan salah satu tempat yang lumayan banyak direkomendasikan dari situs tripadvisor.com yaitu Villa Cemara. Info selengkapnya juga cukup mudah saya dapatkan karena tersedia di alamat website villacemarasitugunung.wordpress.com.

Satu hal yang saya sukai dari villa ini adalah lokasinya yang paling dekat dengan pintu masuk TNGGP, sehingga memberi nilai tambah tersendiri.

Perjalanan dimulai

Saya mengambil cuti satu hari untuk menghindari kepadatan saat long-weekend, mulai berangkat kamis (28 Maret) jam 7.30 pagi dari Bekasi melewati jalan tol Jagorawi. Keluar di pintu tol Ciawi sekitar jam 9 lewat, lanjut melewati jalan Raya Sukabumi.

Bila anda membawa kendaraan sendiri, saya sarankan untuk menggunakan jalur alternatif menuju Sukabumi agar dapat menghindari kemacetan pasar yang ada di pinggir jalan, yaitu pasar Cicurug dan pasar Cibadak. Info dan petunjuk jalan alternatif ini saya dapatkan secara lengkap di website Villa Cemara. Anda akan melewati banyak jalan berlubang sejak keluar pintu tol Ciawi, saat anda melewati jalan alternatif Sukabumi pun tidak luput dari jebakan jalan berlubang ini.

Di tengah perjalanan, tepatnya di jalan Raya Siliwangi, kami mampir untuk makan siang di rumah makan Pondok Bambu Kuring yang menyediakan tempat lesehan, lumayan untuk sekedar merebahkan badan yang pegal selama menyetir. Tempat parkirnya cukup luas. Walaupun papan reklame restoran ini cukup lebar dengan tulisan “masakan terbaik Jawa Barat” namun menurut selera saya rasanya biasa saja, ditambah lagi harganya yang lumayan mahal.

Lanjut jalan lagi, setibanya di Cisaat akan ada papan petunjuk menuju Situgunung belok kiri, patokannya adalah setelah melewati masjid Qubbatul Salam yang ada di kanan jalan, ada jalan pertigaan kecil menuju ke kiri dekat Polsek Cisaat. Setelah belok kiri anda akan melewati pasar yang sedikit macet karena banyak angkot merah ngetem. Dari sini tinggal ikuti jalan saja yang menanjak sepanjang 10 km, aspal jalannya sudah cukup bagus meskipun masih ada beberapa jebakan lubang yang harus diwaspadai.

Khusus 1 km terakhir menuju villa ini merupakan awal dari mimpi buruk seluruh perjalanan ini. Jalan berbatu dengan lubang yang sangat besar bagaikan tumbukan meteor, ditambah tanjakan yang ekstrim akan menjadi ajang pembuktian bagi anda pecinta tantangan sejati. Fasten your seatbelt!!!

Akhirnya jam 12 siang lebih sedikit, terbayarlah sudah semua rintangan yang kami lalui sepanjang perjalanan ini. Sapaan hangat bu Tuti bercampur hembusan angin sejuk dinginnya pegunungan menyambut kedatangan kami. Hari ini hanya kami tamu yang menginap di villa ini.

Selesai memindahkan barang-barang ke kamar dan istirahat sebentar, kami memulai perjalan ini..

Menembus hutan menuju Curug Sawer

Karena letak villa ini tepat di samping pintu masuk TNGGP jadi kami tidak perlu bawa mobil ke dalamnya, cukup parkir di villa dan hanya jalan kaki.

Tujuan pertama kami siang ini menuju air terjun yang terkenal dengan nama Curug Sawer. Sebenarnya saat memasuki gerbang kita harus membayar tiket masuk sebesar Rp 3,000 per orang, namun mungkin karena sepi sehingga tidak ada penjaga gerbangnya, kami pun bisa gratis masuk ke dalam.

gerbang masuk TNGGP, villa Cemara tepat berada di sebelah kanannya

Setelah melewati gerbang ini ada dua pilihan jalan, ke kanan atau yang lurus terus menuju ke Curug Sawer dan yang ke kiri menuju ke danau Situ Gunung. Di dekat pintu masuk tersedia beberapa ojek motor yang siap mengantarkan anda menuju air terjun maupun ke danau.

jalan setapak dalam hutan menuju air terjun

Saya memilih berjalan kaki supaya lebih menikmati sensasinya. Jarak ke air terjun sekitar 2 km lebih, jalan yang dilalui berkontur naik-turun, berbatu-batu, bertanah, dan becek karena habis hujan. Selama menyusuri jalan dalam hutan ini kami tidak menemui seorang pun. Sepanjang jalan kami tidak sengaja menerobos beberapa sarang laba-laba yang ada di tengah jalan, ini membuktikan bahwa setidaknya jalan ini sudah setengah jam atau lebih tidak dilalui orang, asumsi ini karena sebelumnya saya pernah melihat laba-laba yang sedang membangun jaring membutuhkan waktu sekitar 15 menitan.

Di tengah perjalanan, kami melewati jembatan yang melintasi sungai kecil, lumayan untuk santai sejenak mencuci muka dan membasuh kaki yang becek kena tanah.

di tengah perjalanan melewati jembatan bambu yang melintasi sungai kecil

menyegarkan kaki sejenak di air sungai yang dingin

pemandangan sungai kecil yang dangkal dan jernih

Sepanjang perjalanan ini tidak ada petunjuk jelas untuk ke air terjun, sebenarnya banyak jalan bercabang namun kami tetap mengikuti jalan setapak yang lebar. Firasat kami benar, setelah setengah jam lebih kami berjalan semakin masuk ke dalam hutan, mulai terdengar dari kejauhan gemuruh air mengalir. Kami pun bergegas menuruni jalanan berbatu terakhir hingga sampailah di gerbang masuk Curug Sawer.

tidak hanya jalan turunan, namun juga banyak jalan tanjakannya

gemuruh air terjun semakin terdengar jelas selepas rintangan kayu terakhir ini

Kami berjalan sekitar 45 menit untuk sampai ke sini karena lebih sering jalan santai, ditambah berhenti untuk istirahat sejenak dan foto-foto, seharusnya bisa kurang dari setengah jam bila jalan cepat.

Hanya terlihat dua orang penduduk lokal di pos penjaga (saya memanggilnya aa’), seharusnya dipungut tiket masuk lagi, namun karena sepi dan tidak ada penjaganya jadi kami pun bisa masuk gratis lagi.

aliran sungai dari air terjun Curug Sawer

Curug Sawer yang sepi seperti ini hanya bisa anda temui di hari biasa

Ternyata selain kami ada beberapa orang yang sudah lebih dahulu sampai, mereka sedang berenang di pinggiran air terjun ini. Selain itu ada pula seorang pedagang asongan yang siap memberi informasi seadanya tentang tempat ini.

Air terjun Curug Sawer ini sangat deras sekali aliran airnya saat kami ke sini, karena saat ini masih musim hujan jadi debit airnya sedang meningkat. Bila anda ingin berenang disarankan tidak terlalu ke tengah karena sangat dalam dan tekanan airnya sangat deras sebab ketinggian air terjun ini sekitar 30 meter. Bahkan hanya berdiri sebentar di depan air terjun ini pun anda bisa kebasahan dikarenakan derasnya hempasan butiran air yang jatuh beterbangan.

perjalanan yang melelahkan terbayar setelah sampai di sini

arus sungainya cukup deras karena sekarang masih musim hujan

Setelah puas menyatukan diri dengan alam di Curug Sawer ini, kami pun bergegas untuk menuju ke danau supaya masih sempat mengambil foto sunset di tepi danau, cuaca sudah mulai mendung. Menurut info pedagang asongan tadi, kami harus kembali melintasi jalan yang sama untuk menuju ke danau, padahal saat saya tanyakan ke tukang ojek di gerbang utama tadi ada jalan lain yang bisa memotong langsung ke danau. Kami tidak berani ambil resiko karena hanya berdua dan lagi tidak ada petunjuk jalan yang kami temui saat di dalam hutan tadi.

There’s no way back..

Baru saja kami melangkah menaiki tanjakan yang kembali ke hutan, turunlah hujan gerimis yang semakin deras..

Hutan yang kami lalui tadi sangat rindang karena banyak ditutupi pepohonan, sekarang semakin bertambah gelap dikarenakan mendung padahal masih jam empat sore kurang, jalanan juga semakin bertambah licin. Kami pun mengurungkan niat kembali lewat jalan ini.

Kami berbalik kembali ke pos penjaga tadi untuk berteduh, untungnya kami masih sempat menemui tukang ojek di sana. Untuk menuju ke danau awalnya ditawari Rp 30,000 seorang, setelah nego akhirnya mereka mau Rp 40,000 untuk dua orang. Kami pun menyewa dua tukang ojek yang memang saat itu karena sepi pengunjung kebetulan hanya tersedia mereka berdua saja.

Kami melewati jembatan bambu melintasi sungai dan berjalan sekitar 200 meter untuk menuju ke tempat parkiran motor ojek itu.

jembatan bambu yang kami lintasi untuk ke pangkalan ojek

Fasten your grip!!!

Kalau tidak terlalu kepepet, saya sangat tidak menyarankan untuk menggunakan ojek ini karena sangat beresiko sekali. Namun sebaliknya, bila anda pecinta tantangan sejati, ojek ini merupakan pilihan yang tidak boleh dilewatkan sekali seumur hidup.

Jalanan yang dilalui berbatu, berkontur naik-turun meskipun lebih banyak turunannya, bertanah dan becek karena saat kami kembali masih turun hujan, dan yang paling menantang yaitu saat melewati jalan selebar satu meteran dengan pinggiran jurang yang menganga tanpa pengaman.

Sepanjang perjalanan tangan saya tidak pernah terlepas dari pegangan di belakang jok motor ini. Kondisi motor yang seadanya, hanya jenis motor bebek biasa, tanpa helm, jalanan yang licin, dan bukan ban khusus off-road membuat saya serasa semakin dekat dengan Tuhan.

Saya tidak bisa membayangkan bila ada yang ingin menuju air terjun melewati jalan ini ke arah sebaliknya, yang lebih banyak tanjakannya.. ???!!!

Untuk menyiasati kondisi medan, aa’ ojek mengempeskan sedikit kedua ban motornya supaya tapak yang menyentuh permukaan jalan jadi lebih lebar, hmm… cukup cerdas dan kreatif juga saya pikir, meskipun harus mengorbankan velg dan bokong penumpang saat ajrut-ajrutan di jalan berbatu.

Jalan yang dilalui motor berbeda dengan jalan yang kami lalui lewat dalam hutan tadi, lewat jalan ini kami harus memutar agak jauh dan keluar di jalan raya aspal yang berlubang saat kami datangi tadi.

Akhirnya setelah 15 menit perjalanan penuh doa, kami pun tiba di pintu gerbang utama TNGGP. Kami mengurungkan niat menuju ke danau karena masih hujan dan lagi tidak mungkin mengambil foto sunset di kondisi begini. Dengan tangan yang kaku bergetar karena terlalu lama pegangan kuat ke jok belakang motor, saya pun menyerahkan selembar 50 ribuan tanpa perlu kembalian karena saya sudah sangat bersyukur masih bisa kembali dengan selamat, serta untuk mengapresiasi kelincahan aa’ ojek menerabas berbagai rintangan di jalan.

Melewati malam yang dingin dan sunyi

Masih jam empat sore namun keadaan sudah temaram di sekitar villa ini. Pepohonan di gunung mulai tertutup kabut putih tebal. Hujan gerimis masih terus turun sampai malam, kalau sudah begini tidak ada yang bisa dilakukan selain menghabiskan waktu di villa saja, karena di daerah sini tidak ada tempat hiburan, jadi sangat cocok untuk menenangkan dan mengasingkan diri sesaat dari kebisingan kota besar.

pemandangan kabut yang turun di sore hari dilihat dari samping villa
(foto paling bawah di ambil keesokan paginya)

Kami memesan makan malam nasi goreng spesial ke bu Tuti si pemilik villa, tempat makan yang berada di lantai dasar menyatu dengan taman dan kolam ikan menambah asri suasana makan malam kami, sambil ditemani rintik air hujan dan nyanyian sang kodok yang bersahutan.

Mengejar sunrise ke Situ Gunung

Pagi ini setelah shalat shubuh, kami bersiap trekking menuju danau untuk memotret sunrise. Bu Tuti sudah kami infokan rencana ini tadi malam jadi beliau telah menyiapkan sarapan roti panggang hangat sebagai bekal kami.

Tepat jam 5.30 kami berangkat menuju danau, sebenarnya bisa bawa mobil sampai ke dekat danau, namun kami lebih memilih jalan kaki karena jalannya yang berbatu masih rusak parah dan banyak lubang jebakan. Pintu gerbang TNGGP belum ada yang jaga jadi kami bisa masuk lagi dengan gratis, jalan setapak di hutan yang kami lalui masih gelap gulita, beruntung saya sudah siap senter.

Papan petunjuk menuju danau tidak terlihat karena masih gelap, kami pun sempat nyasar ke jalan turunan menuju ke pedesaan, untungnya ada penduduk lokal yang membantu menunjukkan arah. Saat menuju ke danau ini kami melewati camp Rakata yang terkenal, yaitu bermalam di tenda berkualitas bintang lima di alam terbuka. Awalnya kami berniat menginap di camp ini namun karena lumayan mahal, Rp 450.000 per orang (bukan dihitung per tenda), kami lebih memilih tinggal di villa.

Di dekat danau ada juga rumah wisma yang disewakan untuk wisatawan yang ingin menginap di sana, namun dari beberapa blog yang saya baca terlihat wisma ini kurang terurus, tidak dilengkapi televisi, masih belum dapat sinyal hape, dan sepertinya sedikit menyeramkan, apalagi letaknya yang dekat dengan danau, pasti kalau malam akan terasa sepi sekali.

Setelah berjalan sekitar 30 menitan, kami pun tiba di danau Situ Gunung. Sudah ada beberapa wisatawan lain yang tiba di sini, rupanya mereka naik mobil dan bisa parkir sampai ke dekat danaunya. Kebanyakan mereka yang datang pagi ini adalah para fotografer profesional, terlihat dari peralatan kamera komplit yang mereka bawa.

kesunyian danau Situ Gunung di pagi hari yang tenang

Danau ini menjadi tempat favorit para fotografer terutama saat sunrise dan sunset. Salah satu hasil jepretan di danau ini dimuat di situs National Geographic.

foto sunrise di danau Situ Gunung yang dimuat di situs National Geographic

Saat saya tiba di sini pun ternyata sedang ada sesi pemotretan dengan menyewa model seorang bapak berbaju merah yang menaiki rakit di tengah danau, sepertinya modelnya sama persis dengan foto di NatGeo, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan gratisan ini.

model berbaju merah yang sedang berpose di atas rakit

sang model berganti perahu biar terlihat lebih elit dikit

Secara keseluruhan danau ini lumayan terawat dan kebersihannya terjaga, mungkin karena kami datangnya paling pagi dan masih sepi jadi masih rapi. Dulu di tepi danau ini terdapat dermaga kayu yang mengarah ke tengah danau, saya sempat melihatnya dari hasil foto di google, namun mungkin karena kurang dikelola dengan baik jadi dermaga itu sudah hilang entah kemana.

dermaga kayu yang sudah hilang entah kemana saat saya datang

Jam 9 kami pun kembali ke villa, saya kembali bertemu dengan aa’ ojek yang kemarin lagi, setelah saya tawar Rp 20,000 untuk berdua mereka pun mau, lumayan bisa menghemat tenaga karena jalan baliknya lebih banyak tanjakan.

Sesampai di villa, saya menyempatkan diri untuk memotret seputaran villa ini, lumayan untuk bahan tulisan di blog saya kali ini.

Menginap di Villa Cemara yang asri

Keindahan kawasan Situ Gunung yang terdapat ketenangan danaunya dan kemegahan air terjunnya terasa kurang lengkap bila tidak saya ceritakan tempat saya bermalam ini.

Villa Cemara.. dari namanya mengingatkan saya pada acara sinetron yang dulu sering diputar di televisi yang judulnya “Keluarga Cemara”. Hampir mirip dengan cerita tersebut, kehangatan tersebut saya dapatkan dari pemilik Villa Cemara ini, yaitu ibu Tuti dan pak Santoso. Keduanya melayani tamunya dengan ramah sekali, penuh canda, dan banyak bercerita tentang apa saja.

Villa Cemara yang terdiri dari bangunan Villa Kayu di sebelah kiri
dan beberapa kamar yang disewakan di bangunan bercat putih sebelah kanan

Villa Cemara ini terdiri dari Villa Kayu yang disewakan untuk satu keluarga ataupun tamu rombongan, bentuknya khas rumah panggung yang terbuat dari kayu. Terdiri dari 3 kamar yang masing-masing kamar muat menampung 4 orang, ada ruang keluarga yang cukup luas, dan 2 buah meja makan memanjang. Bila kamar sudah penuh, ruang keluarga pun bisa ditempati beberapa orang untuk tiduran di lantai.

Menurut cerita bu Tuti, bangunan Villa Kayu ini telah dibangun sejak tahun 1963. Proses pembuatan villa ini cukup unik dan rumit. Bangunan villa Kayu ini awalnya merupakan rumah adat Betawi yang sudah jadi dan berada di Kemayoran, menurut cerita bu Tuti, rumah ini dipindahkan dengan cara dilepas bagiannya satu-persatu lalu dirakit ulang di tempatnya berada sekarang di Situ Gunung. Kayu yang digunakan adalah jenis kayu ulin yang semakin kena air akan semakin keras, namun sayangnya lantainya dari kayu jati sehingga menjadi santapan rayap.

Awalnya villa Kayu ini merupakan villa yang hanya digunakan untuk keluarga bu Tuti saja, baru sejak tahun 1996 disewakan untuk umum. Biaya sewanya sekitar 1,5 juta semalam.

ruang tengah di dalam bangunan villa Kayu

ruang makan di dalam bangunan villa Kayu

Namun bila anda hanya datang berdua saja, jangan takut kantong jebol, sebab anda masih bisa menyewa kamar secara satuan, tidak perlu menyewa satu Villa Kayu. Bangunan berdinding batu yang baru dibangun sejak 2010, yang ada di sebelah kanan Villa Kayu, menyediakan 5 kamar untuk disewakan yang pas bila anda hanya datang berdua sampai berlima, sebab satu kamar muat sampai 4 orang plus 1 orang tidur di lantai. Biaya sewanya sekitar 400 ribuan semalam.

beberapa kamar villa yang dapat disewakan satuan

Mau pilih kamar yang di bawah atau di atas sama nyamannya. Kamar yang di bawah dekat dengan meja makan yang dikelilingi taman berisi bermacam koleksi tanaman bu Tuti, sedangkan kamar di atas bisa lebih leluasa melihat ke arah pepohonan di gunung. Khusus untuk kamar di atas yang nomor 3 berada paling dekat dengan hutan karena letaknya yang paling pojok. Biasanya kalau sudah sore terlihat kabut putih yang turun menyelimuti pepohonan di gunung.

kamar atas bisa leluasa memandangi hutan,
kamar yang bawah dekat dengan meja makan dan taman yang asri

pemandangan hutan sebelah villa di samping kamar nomor 3

Khusus kamar nomor 4 yang ada di atas, hanya muat untuk 2 orang saja, saya menempati kamar ini, biaya sewanya seharga Rp 300,000 semalam. Kamar ini sebenarnya bisa dimuati sampai 4 orang, asalkan 1 orang tidurnya di lantai dan 1 orang lagi di bangku bambu panjang.

Fasilitas yang disediakan tidak kalah dengan hotel bintang lima, kalau boleh saya bilang malah lebih lengkap. Tersedia dapur umum, disediakan kopi maupun teh gratis lengkap dengan air panas dan gulanya, layanan televisi parabola dengan siaran sampai ke Timur Tengah. Kamar mandinya bersih dan dilengkapi air hangat, tapi kalau saya lebih suka mandi dengan air dinginnya karena bersumber langsung dari mata air gunung Gede yang menyegarkan.

Halamannya luas, muat untuk parkir banyak mobil, di sebelahnya terdapat halaman rumput yang dilengkapi sebuah gawang kecil untuk menemani anda mengisi waktu bermain bola ataupun barbeque-an tengah malam.

tempat untuk bersantai di halaman sembari memandang ke arah pegunungan

Momen yang paling nikmat adalah saat menghabiskan waktu duduk santai di meja makan di sekeliling tamannya bu Tuti, ditemani secangkir kopi ataupun teh hangat sembari mendengarkan gemericik air terjun di kolam ikan mini, sambil memandang ke arah pepohonan di gunung.

meja makan yang dikelilingi taman asri, serasa menyatu dengan alam

nikmatnya menghabiskan waktu bersama di meja makan ini

Tidak terasa waktu telah siang, saya pun bersiap cek-out untuk pulang. Karena hanya kami yang menginap dari hari Kamis sampai Jumat ini jadi kedekatan bu Tuti dan pak Santoso sangat terasa sekali bagi kami. Saat pulang bu Tuti sempat memberikan saya bibit pohon Kalpataru sebagai tanda mata.

bu Tuti dan pak Santoso pemilik villa yang ramah pada semua tamunya

Singgah di saung khas Sunda

Saat kami pulang, waktu sudah hampir jam 12 siang, karena ini hari Jumat jadi kami singgah sebentar di rumah makan khas Sunda bernama Saung Hegar yang dekat dengan masjid besar untuk saya Jum’at-an. Rumah makan yang terdiri dari beberapa saung ini menawarkan menu yang lumayan enak, komplit, dan yang pasti pas di kantong saya. Yang tidak kalah unik, kita bisa santai lesehan di saung ini sambil menikmati pemandangan sawah hijau, pegunungan yang biru, langit biru dengan awan putih berarak, dan semilir tiupan angin segar.

menikmati makan siang sambil lesehan di saung

pemandangan hamparan sawah dan langit biru di samping saung

Saung ini sangat saya rekomendasikan buat anda pecinta kuliner yang tidak ingin menguras kantong terlalu dalam, serta buat anda yang ingin menikmati sensasi makan di tengah sawah. Alamatnya berada di jalan Situgunung km. 3, saung ini berada di sebelah kiri jalan kalau anda baru kembali dari Situ Gunung.

Lanjut dari sini, kami menuju ke Bogor untuk menghabiskan liburan satu hari lagi di kota hujan.

Menikmati gunung Salak dari kejauhan

Kami memilih bermalam di Royal Hotel yang berada dekat dengan Kebun Raya Bogor. Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dengan hotel ini, satu hal yang paling saya nikmati adalah pemandangan dari jendela kamar kami yang berada di lantai enam yang mengarah langsung ke gunung Salak. Sewa kamar permalamnya juga mahal, sekitar 800 ribuan untuk tipe kamar deluxe.

memandangi gunung Salak menjelang malam

memandangi gunung Salak menjelang malam

Dua hari liburan yang kami habiskan di Situ Gunung dan Bogor lumayan melelahkan namun memberi kami warna tersendiri akan keindahan wisata yang belum pernah kami datangi sebelumnya. Mirip acara televisi “koper dan ransel”, wisata berbudget murah pun ternyata bisa memberi kesan yang mendalam.

Tips perjalanan

1) Kalau anda bawa mobil sendiri, usahakan jangan bawa mobil sedan, karena jalan yang dilalui untuk sampai ke sana masih rusak dan banyak yang berlubang, kecuali bila anda hanya berdua saja. Gunakanlah jalur alternatif menuju Sukabumi untuk menghindari kemacetan pasar di pinggir jalan.

2) Anda bisa naik kendaraan umum, gunakanlah bis yang tujuannya ke Sukabumi, jangan lupa turun di pertigaan Polsek Cisaat, lalu jalan kaki sedikit ke tempat angkot merah yang ngetem di dekat pasar, lalu anda turun sesampainya di pintu gerbang TNGGP.

3) Saat berjalan ke dalam hutan, gunakanlah alas kaki yang nyaman, sendal gunung adalah pilihan terbaik.

4) Perjalanan menuju ke air terjun dan ke danau masing-masing sekitar 30 menitan bila ditempuh dengan berjalan kaki, jaraknya sekitar 2 km dari gerbang TNGGP. Jalur menuju ke air terjun jauh lebih sulit dibanding ke danau, harap waspada bila anda mengajak orang tua.

5) Gunakan jasa ojek motor seperlunya, sebab jalur yang dilaluinya untuk ke air terjun sangat berbahaya. Pada saat sepi masih bisa ditawar murah, namun kalau lagi ramai bisa mahal. Untuk jalur menuju danau sama dengan jalur yang dilalui mobil dan pejalan kaki, sehingga jalur ini masih cukup aman untuk dilalui ojek.

6) Bila anda berenang ataupun sekedar mencelupkan kaki di air terjun ataupun sungai, berhati-hatilah terhadap lintah. Bila kulit anda sudah terlanjur ditempeli lintah, cobalah cara sederhana dengan mencampur air dan tembakau rokok lalu disiramkan ke lintah yang menempel, atau bisa juga dengan korek api yang dinyalakan di dekat badan lintah tersebut.

7) Saat sunrise maupun sunset lebih bagus dihabiskan di danau, karena pemandangannya yang luas membuat lukisan cahaya yang indah di awan.

8) Bila anda membawa kamera, lebih bagus menggunakan lensa wide dan jangan lupa membawa tripod. Hindari datang saat weekend untuk mendapatkan hasil foto yang sepi saat di air terjun dan danau.

9) Jangan membuang sampah sembarangan, jangan mengambil dan meninggalkan sesuatu apapun saat anda berada di sana. Lestarikanlah hutan lindung TNGGP sebaik mungkin.

20130411

36 Responses to “Wisata alam ke Situ Gunung”

  1. Ardiantop April 10, 2013 at 9:13 am #

    Mantaaaaaap… jadi pengeeen kesana, ulasan yg memanjakan nih, semuanya dijelaskan + foto-foto lagi..

    • iwayful April 10, 2013 at 9:44 am #

      yups.. ajak hani dong buat hanimunan ke sana :)

  2. vivi July 5, 2013 at 11:11 am #

    untung ada tulisan ini jadi dapat gambaran soal vila cemara, soalnya website mereka sendiri lagi off karena belum diperpanjang

    • iwayful July 5, 2013 at 11:32 am #

      selamat berlibur :)

      • vivi July 5, 2013 at 12:49 pm #

        terima kasih. saya langsung pesen kamar yg persis diinepin wkt itu. Oh iya di Villa Cemara kita bisa pesen makan ga di situ?

      • iwayful July 5, 2013 at 1:59 pm #

        bisa. murah dan enak..

      • vivi July 5, 2013 at 2:01 pm #

        baiklah sip

  3. cumilebay.com July 13, 2013 at 10:18 am #

    Hawa nya dingin … enak banget nich :)

  4. faisyal July 31, 2013 at 10:25 am #

    alur ceritanya kerennn… dan mempunyai informasi keadaan di sana yang lengkap. thanks…

    • iwayful July 31, 2013 at 10:44 am #

      terima kasih sudah mampir :)

  5. Lia18 Agustina September 17, 2013 at 8:25 pm #

    Sebenarnya ada jalur alternatif ke curug sawer, letaknya sebelum pintu masuk atau dari luar lewati villa yawitra berapa meter belok ke arah kanan. Jalan pintas cepat dan tertata rapi hanya butuh 15-20 menit saja sampai ke curug sawer.

    • iwayful September 18, 2013 at 8:04 am #

      terima kasih infonya bu, sebenarnya waktu saya kembali dari air terjun naik ojek kalau tidak salah ya lewat jalur alternatif ini, jalannya yg naik turun itu kan?
      kalo dari jalan utama kita ambil yg ke arah cinumpang.

  6. riezh November 14, 2013 at 7:51 am #

    waaa..pengeeen~
    kalo mo nginep di villa cemara itu harus buking dulu ngga??
    ada contactnya gan?

    • iwayful November 14, 2013 at 8:55 am #

      sebaiknya buking dulu supaya lebih pasti.
      nomor kontaknya bisa dilihat langsung di websitenya villacemarasitugunung.wordpress.com

      • Hadi parjono August 10, 2014 at 9:34 am #

        Kalau pake kursi roda liburan di sini bisa ngga ya, jalan di sekitar vilanya bisa engga kalau pakai kursi roda? Thanks mohon jawabannya

      • iwayful August 11, 2014 at 4:27 am #

        kalau hanya di sekitar vila sepertinya bisa pakai kursi roda, pemandangannya bagus, enak buat menghabiskan waktu yg lama

  7. ydiafrune June 27, 2014 at 10:11 pm #

    wah menarik nih Situ Gunung. kira-kira bisa buka tenda dan nge-camp di dekat danau-nya kah? makasih

    • iwayful June 28, 2014 at 12:59 am #

      kalau mau nginap di tenda bisa, di sana ada yg nyewain, dikelola oleh Tanakita, fasilitasnya sekelas hotel bintang lima dengan harga yang “lumayan”.
      tapi kalau bawa tenda sendiri dan nge-camp di sana saya kurang tau apakah diperbolehkan atau tidak.

      • ydiafrune June 28, 2014 at 5:16 am #

        Naah … saya pun hanya tahu camp-ground yang dikelola oleh Tanakita. Ga apa deh, terima kasih sudah berbagi. Tulisannya menarik :)

  8. ardiansyah October 25, 2014 at 4:43 pm #

    Waahh tulisannya menarik om, dibaca sampai habis hehe. Oia boleh minta kontak yang bisa dihubungi buat villa ibu tuti? Kayaknya villanya cukup menarik buat istirahat, 28124dcd nuhun infona kang :)

  9. Fahmi (catperku.info) December 1, 2014 at 6:39 pm #

    “Rp 450.000 per orang” di camp rakata beneran itu? mahaaaaal :|

    • iwayful December 8, 2014 at 8:47 am #

      iya emang mahal mas, makanya saya ngga jadi milih di situ..

      • Fahmi (catperku.info) December 8, 2014 at 8:48 am #

        selain itu ada alternatifnya gak, kemping bawa tenda sendiri yang lebih murah gitu. atau malah gratis :D

      • iwayful December 8, 2014 at 8:51 am #

        sepertinya bisa kalau mau kemping bawa tenda sendiri di dekat danaunya, paling cuma minta izin nginap ke penjaganya, tapi saya belum pernah nyoba

      • Fahmi (catperku.info) December 8, 2014 at 8:53 am #

        okeh nanti di coba :D
        terimakasih. kebetulan ada rencana mau kemping di sana ini :D

      • iwayful December 8, 2014 at 9:49 am #

        sip, ditunggu sharing ceritanya ya mas :)

      • Fahmi (catperku.info) December 8, 2014 at 9:51 am #

        siaap! terima kasih banyak informasinya yak :D

  10. melin indri kusuma January 9, 2015 at 7:30 pm #

    boleh minta contact nya dong, mau menghubungi nih

  11. teddy May 19, 2015 at 8:31 am #

    kang, saya berencana liburan ke situ gunung & nginap di villa cemara juga.
    apakah 1 km terakhir itu benar-benar parah jalanannya? saya bawa mobil sekelas avanza gitu sih.
    lalu kalau sudah sampai di lokasi situ gunung, apakah masih jauh untuk turun kuliner di kota sukabumi?
    terima kasih sebelumnya

    • iwayful May 20, 2015 at 8:45 am #

      dulu sudah lumayan parah karena saya bawa mobil sedan namun masih bisa dilewati pelan-pelan, kabar terakhir saya baca dari surat pembaca ada yg mengadukan kalau sekarang kondisinya jauh lebih parah lagi, ada baiknya tanyakan dulu ke pemilik villa cemara (ibu tuti) apakah beliau punya jalan alternatif lain yg bisa dilalui.
      dari villa ke jalan raya sukabumi lumayan jauh jaraknya sekitar 10 km, belum lagi ditambah jalanan rusak yg menambah waktu tempuh.

  12. dabul August 26, 2015 at 3:51 pm #

    gan ko kaga ada yang bisa di hubungin gan no diatas dua-duanya, adakah nomor yang bisa di hubungin kang. rencana ane minggu depan mau ke sana. thanks gan sebelumnya…

    • dabul August 26, 2015 at 3:58 pm #

      gan tolong gan infonya gan.. nomor yang bisa di hubungin gan? klo kaga ada kang vilanya juga kaga papa kang. atau warga yang di deket villa sana jg kaga papa kang.. thanks ya gan sebelumnya…

      • iwayful August 27, 2015 at 9:50 am #

        coba hubungin ke nomor 0877 80622 836
        barusan ane hubungin bisa koq, bu tuti tetap ramah menyapa seperti biasanya hehe..

Trackbacks/Pingbacks

  1. Desma the Druid; Part 6: The Monastery | E. Wietstock - July 28, 2016

    […] [via Let’s Go Green] […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: