Spesies yang terancam punah

9 Oct

Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna. Didukung dengan iklim tropis dan masih tersedianya hutan hujan alami membuat spesies flora dan fauna tersebut nyaman hidup di habitatnya.

jaket dari bulu Leopard

Namun keinginan manusia tidak hanya sekedar menikmati keindahan spesies tersebut di alam bebas, terkadang kita ingin sekali bisa memiliki spesies yang unik untuk kita rawat di rumah agar bisa kita pandangi setiap hari, atau karena terlalu sayangnya hingga kita ingin mengawetkan spesies tersebut untuk menjadi pajangan di rumah, atau untuk dijadikan bahan pakaian dalam trend mode fashion.

Hal ini tidak masalah untuk spesies tertentu dengan kelimpahan yang banyak di alam, tetapi ada beberapa spesies yang keberadaannya di alam bebas semakin sedikit kita jumpai dan bahkan hampir terancam kepunahan (endangered species).

Berkurangnya populasi endangered species ini terutama disebabkan oleh berubahnya fungsi hutan menjadi lahan bisnis kelapa sawit misalnya, ataupun eksploitasi besar-besaran terhadap spesies tertentu karena nilai ekonomisnya yang sangat tinggi.

Atas dasar kekhawatiran inilah maka sejak tahun 1975 disepakati perjanjian yang mengatur penanganan spesies yang terancam kepunahan melalui the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora atau yang disingkat menjadi CITES.

CITES merupakan perjanjian internasional yang disepakati oleh negara anggotanya untuk mengatur perdagangan spesies flora dan fauna yang terancam kepunahan maupun spesies yang dilindungi. Perjanjian tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa perdagangan satwa dan tumbuhan langka tersebut tidak mengancam kelangsungan hidup mereka di alam.

Hingga kini telah tergabung 176 negara di dalamnya, termasuk Indonesia yang juga telah bergabung sejak tahun 1978. CITES di Indonesia ditangani oleh Kementerian Kehutanan pada Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam yang berkantor pusat di Gedung Manggala Wanabakti di daerah Senayan, Jakarta.

Secara garis besar, CITES melindungi sekitar 5.000 spesies fauna dan sekitar 29.000 spesies flora terhadap eksploitasi yang berlebihan dari perdagangan internasional. Spesies yang termasuk dalam daftar CITES terbagi dalam 3 lampiran (appendice) yang didasarkan pada seberapa terancamnya keberadaan spesies tersebut di habitatnya.

Appendice 1 meliputi semua spesies yang terancam kepunahan. Perdagangan spesies yang diambil langsung dari alam bebas ataupun habitat aslinya adalah sesuatu yang ilegal. Perdagangan hanya diperbolehkan dalam kondisi khusus misalnya untuk keperluan penangkaran dan penelitian. Namun untuk spesies yang dikembangbiakan dari hasil penangkaran dapat digolongkan ke dalam appendice 2.

Appendice 2 meliputi spesies yang belum tentu terancam punah, tetapi mungkin akan terancam punah apabila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan (misalnya dengan sistem kuota).

Appendice 3 meliputi spesies yang dilindungi pada suatu negara, negara tersebut lalu meminta anggota CITES lainnya untuk membantu mengawasi perdagangannya. Hal ini disebabkan populasi suatu spesies berbeda-beda di setiap wilayah. Hingga saat ini Indonesia tidak memiliki spesies yang termasuk dalam appendice 3.

nepenthes khasiana

Salah satu spesies yang berasal dari keanekaragaman hayati hutan kita adalah kantong semar (nepenthes). Semua spesies tanaman ini termasuk dalam appendice 2, sedangkan untuk kantong semar jenis nephentes khasiana dan nepenthes rajah termasuk dalam appendice 1 yang berarti keberadaannya sudah terancam punah.

Anggrek, yang merupakan tanaman simbol puspa pesona bangsa, juga ada sebagian yang termasuk dalam daftar CITES. Misalnya, semua anggrek jenis paphiopedilum dan phragmipedium yang keduanya memiliki ciri khas terdapat kantong pada bagian bunganya termasuk dalam appendice 1.

paphiopedilum gigantifolium

Walaupun nepenthes dan kedua jenis anggrek tersebut termasuk dalam appendice 1 namun masih dapat diperjualbelikan asalkan spesies tersebut berasal dari hasil penangkaran bukan diambil langsung dari alam.

Karena masih lemahnya pengawasan hukum di negara kita, bukan berita baru lagi bila masih dapat kita jumpai perdagangan flora dan fauna langka bahkan di tempat umum sekalipun. Lain halnya bila kita ingin mengekspor ataupun mengimpor tanaman ini, pengawasannya jauh lebih ketat sebab diperlukan izin khusus yang dikeluarkan oleh pemerintah, lengkap dengan laporan penggunaan spesies ini di negara tujuannya.

Senangnya saya saat melihat daftar CITES ini (pdf) sebab spesies tanaman pakis yang merupakan tanaman koleksi favorit saya belum ada yang masuk dalam daftar CITES, terutama platycerium ridleyi yang berasal dari hutan di Kalimantan ternyata belum dinyatakan sebagai flora yang terancam punah. Namun ada sedihnya juga, karena suatu saat bisa saja Eyi juga terancam punah. Jadi saya sangat mendukung sekali bila Eyi dapat dimasukkan paling tidak dalam appendice 2 sebab bila perdagangannya tidak dibatasi maka populasinya di alam bisa menurun drastis.

platycerium ridleyi

Berikut ini beberapa alasan dari saya mengapa Eyi harus dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam daftar CITES:

  1. Kebanyakan penjual Eyi mendapatkan tanaman ini langsung dari hutan, atau sebutannya Eyi cabutan.
  2. Masih sangat sedikit sekali Eyi yang dijual dari hasil perkembangbiakan spora, hal ini cukup sulit dilakukan sebab untuk menunggu Eyi mulai dari spora sampai dewasa diperlukan waktu hingga lebih dari 1 tahun, dan lagi belum tentu semua spora dapat berhasil dikembangbiakan dikarenakan faktor lingkungan.
  3. Pembeli yang mendapat Eyi cabutan langsung dari hutan memerlukan waktu, perlakuan khusus dan ketelatenan dalam merawatnya selama proses adaptasi agar dapat tetap hidup, untuk pemula dikhawatirkan akan membuat tanaman ini mati.
  4. Perubahan fungsi hutan menjadi lahan bisnis sehingga dilakukan penebangan banyak pohon juga dapat menghilangkan habitat asli Eyi.
  5. Faktor alam juga bisa menjadi penyebabnya, musim kemarau yang berkepanjangan dapat memicu kebakaran hutan. Ditambah lagi dengan kecerobohan manusia seperti membuang puntung rokok sembarangan sehingga dapat memicu terjadinya api.

Kini dengan mengetahui daftar spesies yang terancam kepunahan semoga dapat meningkatkan kesadaran diri kita dalam menjaga kelestarian dari keanekaragaman hayati negara ini.

One Response to “Spesies yang terancam punah”

  1. adebastian December 7, 2012 at 3:01 pm #

    sayang ya kalau sampai punah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: